Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
13 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
17 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
14 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
4
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
12 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
19 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
19 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Olympic

Kritik Postingan Diaz Hendropriyono, Yenny Wahid: Jangan Mudah Cap Radikal

Kritik Postingan Diaz Hendropriyono, Yenny Wahid: Jangan Mudah Cap Radikal
Staf Khusus Presiden Jokowi, Diaz Hendropriyono. (Foto: Istimewa)
Rabu, 15 September 2021 16:18 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Putri Presiden ke-4 RI Gus Dur, Yenny Wahid, angkat suara terkait unggahan Staf Khusus Presiden Jokowi, Diaz Hendropriyono, soal santri yang sedang menunggu giliran divaksin, menutup telinga ketika mendengar musik.

Usai menayangkan suasana santri tersebut, unggahan Diaz tersebut kemudian menampilkan sekelompok pria berjubah putih atau gamis sedang menari diiringi alunan musik. "Sementara itu, kasian dari kecil sudah diberikan pendidikan yang salah. There's nothing wrong to have a bit of fun!" tulis Diaz dalam postingannya yang diunggah 1 hari lalu itu.

Postingan kontroversial itu dikritisi Yenny Wahid. Yenny menyebut mereka adalah pelajar/santri penghafal Al-Quran (tahfidz Quran). "Santri ma'had tahfidz Quran menutup kuping ketika melakukan vaksinasi. Banyak yang mengkritik mereka, bahkan mengatakan mereka radikal," kata Yenny dikutip dari akun Instagram pribadinya, Selasa (14/9).

Yenny menyampaikan pandangannya terkait tudingan itu. Menurut dia, jangan gampang memberi cap radikal pada orang lain. Menyematkan label radikal itu, kata Yenny, justru akan membuat masyarakat menjadi terbelah. Ia meminta agar bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain.

"Yuk kita lebih proporsional dalam menilai orang lain. Janganlah kita dengan gampang memberi cap seseorang itu radikal, seseorang itu kafir dan lain-lain. Menyematkan label pada orang lain hanya akan membuat masyarakat terbelah," kata pendiri Wahid Foundation ini.

Yenny mengajak masyarakat untuk lebih saling mengerti satu sama lain dan itu bisa dimulai dengan memahami dan menerima bahwa nilai yang kita anut tidak perlu sama untuk bisa tetap bersatu sebagai bangsa Indonesia.

"Buat adik-adik ma'had tahfidz, semangat terus, ya, dalam upaya menghafal Al-Quran. Semoga Allah SWT memberikan barokah berlimpah untuk kalian semua," sambunganya seraya me-mention @diaz.hendropriyono sebagai sumber video.

Yenny lalu bercerita bahwa menghafal Al Quran memang tidak mudah. Dibutuhkan ketenangan dan suasana yang hening agar dapat berkonsentrasi.

"Menghafal Quran bukan pekerjaan yang mudah. Kawan baik saya, Gus Fatir, dari pesantren @ponpespi_alkenaniyah belajar menghafal Al-Quran sejak usia 5 tahun. Beliau mengatakan bahwa memang dibutuhkan suasana tenang dan hening agar lebih bisa berkonsentrasi dalam upaya menghafal Quran," ujar Yenny.

"Jadi kalau anak-anak ini oleh gurunya diprioritaskan untuk fokus pada penghafalan Quran dan diminta untuk tidak mendengar musik, itu bukanlah indikator bahwa mereka radikal," terangnya.***

wwwwww