Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
18 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
18 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
11 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
4
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
19 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
5
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
9 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
6
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
20 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Home  /  Berita  /  Nasional

LAN: Kebijakan Publik Belum Cukup Didukung Data dan Bukti Faktual

LAN: Kebijakan Publik Belum Cukup Didukung Data dan Bukti Faktual
Deputi KIAN LAN Tri Widodo dalam suatu webinar. (gambar: lan)
Senin, 27 September 2021 07:05 WIB
JAKARTA - Deputi Bidang Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara (KIAN-LAN) Tri Widodo dalam sebuah acara virtual baru-baru ini sebagaimana dikutip di Jakarta, Senin (27/9/2021) mengungkapkan, kebijakan publik yang dihasilkan di Indonesia masih belum didukung dengan data dan bukti faktual (Evidence Based Policy) yang memadai.

Padahal, kata Widodo, kemajuan suatu negara salah satunya dapat direfleksikan dari kualitas kebijakan publik yang diproduksi. Penggunaan data yang lengkap dalam proses perumusan kebijakan dapat menghasilkan kebijakan publik yang berkualitas dan berdampak positif bagi publik.

"Isu terbesar yang dihadapi analis kebijakan dalam merumuskan kebijakan publik adalah kualitas kebijakan publik yang belum mendukung visi pembangunan negara serta kurangnya pemanfaatan penelitian berbasis data dalam proses pembuatan kebijakan publik (knowledge based policy making process)" tambahnya sebagaiman dikutip GoNEWS.co dari publikasi LAN, Senin (27/9/2021).

Dalam merumuskan kebijakan yang berbasis data faktual, kata Widodo, tentunya akan bersinggungan dengan tiga informasi. Pertama, fakta yang memuat data dan informasi yang dapat teruji kebenarannya secara obyektif. Kedua, interpretasi, yang merupakan penafsiran seseorang atas fakta tertentu yang mungkin bersifat obyektif namun masih perlu di dalami secara detail dikarenakan kemungkinan masih banyak unsur subyektifnya. Dan yang ketiga, opini yang merupakan pendapat atau ekspresi seseorang atas suatu masalah, namun pembuat keputusan perlu cermat dalam menggunakan opini dikarenakan sifatnya masih subyektif.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Nasional, DKI Jakarta
wwwwww