Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
8 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
2
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
3
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
9 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
4
Geledah PT Djarum dan KPPBC Kudus, KPK Bidik Aliran Dana Gelap Pita Cukai
Hukum
9 jam yang lalu
Geledah PT Djarum dan KPPBC Kudus, KPK Bidik Aliran Dana Gelap Pita Cukai
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
8 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
7 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Home  /  Berita  /  Nasional

Imparsial: Pendidikan HAM Penting Dimulai Sejak Dini

Imparsial: Pendidikan HAM Penting Dimulai Sejak Dini
Ilustrasi pendidikan HAM. (gambar: ist./inulwara)
Kamis, 21 Oktober 2021 15:30 WIB
JAKARTA - Peneliti Imparsial Gustika Jusuf Hatta dalam diskusi 'Refleksi dan Langkah Pemulihan Diri Anak Muda Korban dan Penyintas KBB', Rabu (20/10/2021), menyatakan pandangannya mengenai pendidikan HAM (hak asasi manusia).

Menurutnya, pendidikan HAM penting untuk menjamin dan menanamkan nilai mengenai kebebasan beragama dan berkeyakinan pada generasi muda di Indonesia.

"Pendidikan HAM itu, saya rasa, harus mulai sejak dini. Karena, ketika kita masih muda, itu saat kita membangun nilai-nilai tersebut (kebebasan beragama dan berkeyakinan, Red.)," kata Gustika Jusuf dikutip GoNEWS.co, Kamis.

Saat ini, kata Gustika, Indonesia belum memiliki mata pelajaran khusus terkait hak asasi manusia. Padahal, pemahaman mengenai hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sangat krusial untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya toleransi dan jaminan kebebasan beragama di negara yang memiliki beragam kebudayaan.

"Nilai-nilai tersebut, nilai penghormatan atas kebebasan beragama dan berkeyakinan, itu masuk ke dalam HAM, dan tentunya juga berhubungan dengan Pancasila," ujar dia.

Gustika mengutip tulisan tenaga pendidik Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Yogyakarta Isti Yuni Purwanti yang mengatakan bahwa nilai tidak timbul dengan sendirinya, tetapi ada faktor-faktor yang merupakan prasyarat, yaitu bahasa.

Penggunaan bahasa, kata dia, tentu mendapat pengaruh yang berasal dari golongan, kehendak, perasaan, dan kecenderungan dari masing-masing orang.

Oleh karena itu, nilai mempunyai kualitas sosial, mengingat berbagai nilai dapat diperoleh oleh masing-masing insan melalui interaksi dengan orang lain.

"Sifat perkembangan nilai berdasarkan pada dua hal, yaitu untuk diri sendiri dan untuk lingkungan yang lebih luas," kata dia melanjutkan.

Sifat perkembangan tersebut berawal dari hubungan timbal balik antara dua sifat nilai intrinsik dan instrumental yang menyebabkan adanya sifat perkembangan dan perubahan pada nilai.

"Menurut pandangan ini, nilai-nilai adalah instrumen atau alat yang digunakan oleh seseorang sebagai pendorong untuk mencapai tujuan," kata Gustika.

Dengan demikian, ia kembali mengingatkan bahwa nilai-nilai kebebasan beragama dan berkeyakinan sangat penting untuk ditanamkan pada anak muda melalui pendidikan dan dengan bersosialisasi atau melakukan interaksi sosial.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:PON, Nasional, DKI Jakarta
wwwwww