Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
12 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
12 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
13 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
13 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
13 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  Metropolitan

LaNyalla Siap Nyapres Melalui Jalur Non Parpol, Pengamat: Bukan Ambisi Tapi Panggilan

LaNyalla Siap Nyapres Melalui Jalur Non Parpol, Pengamat: Bukan Ambisi Tapi Panggilan
Pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing. (Foto: Istimewa)
Minggu, 07 November 2021 22:12 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing, turut menanggapi wacana Ambisi Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti yang mendapat dukungan untuk menjadi presiden pada pemilu 2024 saat menutup Kongres X Gerakan Pemuda Marhaenis. Kongres tersebut digelar di The Soekarno Center, Istana Mancawarna Tampaksiring, Gianyar, Bali, Jumat (5/11/2021) kemarin.

Dimana, LaNyalla sebelumnya juga sudah mengutarakan keinginannya untuk mengembalikan kewenangan DPD RI dalam mengajukan calon presiden maupun calon wakil presiden dari unsur non partai politik. Menurut LaNyalla, DPD sebagai representasi daerah idealnya diberi kesempatan yang sama seperti partai politik (parpol).

Namun keinginan LaNyalla tersebut, sebagian pengamat menganggap hanya ambisi dan mustahil untuk diwujudkan. "Saya pikir, bukan ambisi. Mungkin lebih tepat saya katakan itu sebagai suatu panggilan, calling, gitu ya. Karena kenapa kita tidak ada calon independen untuk calon presiden. Misalnya pada level yang lebih mikro yaitu katakanlah Bupati, Walikota, Gubernur bisa independen, artinya jalur non partai. Kenapa yang sifatnya nasional tidak ada jalur independen. Artinya kita sudah menerima calon independen itu di Pilkada, sehingga ada kemungkinan terbuka kompetisi orang partai dengan orang non partai untuk memimpin. Nah hal yang sama, kenapa kita tidak buka 'keran' calon independen untuk presiden," ujar Emrus, Minggu (07/11/2021).

Sehingga lanjut Emrus, dengan adanya calon independen, maka partai politik akan menjadi semakin tertantang untuk melahirkan calon yang lebih berkualitas. Artinya, katanya Dia, justru adanya calon independen di level calon presiden, justru akan memperbaiki kualitas partai.

"Kalau ada yang bilang melalui independen harus mengubah UU, pertanyaan saya, UU, konstitusi atau apapun, boleh nggak dirubah? Kalau lebih baik, kenapa tidak? Jadi yang saya jelaskan ini kan lebih baik, tinggal kita rubah UU. Bukankah UU dibuat supaya masyarakat lebih baik," tandasnya.

Jika ada seseorang yang maju dengan jalur independen kata Emrus, pertama, langsung atau tidak, partai akan berbenah diri untuk berkompetisi dengan calon Indepenenden. "Kedua, ketika ada rakyat Indonesia yang ingin memimpin bangsa harus lewat jalur partai, sementara disana sudah ada kepentingan partai maka akan sulit. Negosiasi atau transaksi poitik di internal partai menjadi persoalan. Jadi, jangan kita terhambat dengan peraturan," tegasnya.

"Dengan dibukanya calon independen, maka bukan cuma LaNyalla, para petani, wartawan, guru, tukang becak, bisa jadi presiden tanpa proses panjang di internal partai," pungkasnya.

Sebelumnya, Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Adi Prayitno mengatakan, Ambisi Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti yang ingin mengembalikan kewenangan DPD RI untuk mengajukan calon presiden maupun calon wakil presiden dari unsur non partai politik dianggap mustahil. Terlebih lagi ambisinya untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden 2024 melalaui jalur independen.

"Capres independen tak ada dalam UU Pemilu kita. Jadi, harus mengubah regulasi kalau ada yang ingin menjadi capres independen. Tentu sangat mustahil mengubah peraturan ini, karena DPD tak punya kekuatan politik apapun untuk melawan dominasi DPR RI," ujarnya.

"Pada saat bersamaan nama LaNyalla juga tak pernah terdeteksi dalam radar survei manapun," tambahnya.

Lebih jauh Adi Prayitno mengatakan, negara saat ini sedang dikuasai oleh rezim poltik yang segala sesuatunya menurut dia adalah kehendak parpol. Bahkan tokoh populer yang digadang-gadang bisa maju sebagai calon presiden dan memiliki pegangan parpol saat ini masih sulit karena terkendala dengan calon lain yang dijagokan di internal partai politik itu sendiri.

"Menurut saya peluang LaNyalla sangat berat dari berbagai penjuru. Kecuali Dia mau ikut dalam konvensi parpol. Tapi kalau maju melalui jalur independen, sulit bagi La Nyalla yang tak punya partai menembus hegemoni oligarki partai," tukasnya.

Untuk diketahui dalam beberapa rilis lemabaga survei, sudah muncul nama-nama tokoh yang bakal diusung partai politik, seperti Ganjar Pranowo, Muhaimin Iskandar, Ridwan Kamil, Anies Baswedan, Prabowo Subianto, Puan Maharani, Sandiaga Uno, Erick Thohir dan Airlangga Hartato.***

wwwwww