Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
10 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
2
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
12 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
3
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
17 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
4
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
6 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
5
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
7 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
11 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Semakin Memanas, Pertarungan Ganjar dan Puan Belum Usai

Semakin Memanas, Pertarungan Ganjar dan Puan Belum Usai
Ketua DPR Puan Maharani (Kiri) bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Foto: Istimewa)
Kamis, 17 Februari 2022 14:31 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga mengatakan, hubungan Ketua DPR Puan Maharani dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tampaknya semakin merenggang. Apalagi setelah Puan mengeluh saat berkunjung ke Jawa Tengah tidak disambut Ganjar. Keduanya adalah kader PDI Perjuangan.

"Ganjar tampaknya semakin dijauhi DPP karena dianggap tidak menghormati Puan sebagai Ketua DPR dan salah satu ketua di DPP PDIP. Hal itu membuat sebagian di DPP gerah terhadap Ganjar," katanya kepada GoNews.co melalui pesan Whatsapp, Kamis (17/2/2022).

Ia melanjutkan, ketidaksukaan itu tambah membesar setelah kasus di desa Wadas. Ganjar dinilai tidak berkompeten dalam menangani kasus tersebut. Bahkan, salah satu anggota DPR dari PDIP berkata kalau Ganjar harus bertanggung jawab atas terjadinya kasus Wadas.

"Anggota DPR tersebut meminta agar tidak melibatkan Presiden Joko Widodo dalam kasus tersebut. Indikasi itu menguatkan dugaan DPP semakin tidak berkenan kepada Ganjar. Hal ini akan berpengaruh terhadap peluangnya diusung PDIP menjadi capres pada Pilpres 2024," kata dia.

Ia menambahkan, peluang itu semakin kecil karena elektabilitas Ganjar turun paska kasus Wadas. Turunnya elektabilitas Ganjar tentu menguntungkan Puan untuk melenggang menjadi capres dari PDIP. Jadi, kasus tidak dijemput dan kasus Wadas tampaknya menjadi bola liar yang merugikan Ganjar. Kerugian Ganjar tersebut tentu menjadi keuntungan bagi Puan.

Meski begitu, Ganjar masih dapat mengembalikan elektabilitasnya bila mampu menyelesaikan kasus Wadas. Bahkan, elektabilitasnya masih bisa lebih meroket bila keberpihakannya kepada rakyat nyata bukan hanya di media sosial.

"Tentu setiap kenaikan elektabilitas Ganjar akan membuat Puan uring-uringan. Sebab, kenaikan elektabilitas Ganjar akan menjadi kerikil bagi Puan untuk nyapres 2024," kata dia.

Sebelumnya diketahui, dalam rapat koordinasi tiga pilar PDIP di Manado, Sulawesi Utara pada Rabu (9/2/2022) lalu, Puan menyampaikan curhatnya di hadapan kader PDIP. Puan mengaku heran ada gubernur yang tak menyambutnya saat datang.***

wwwwww