Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
12 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
13 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
14 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
14 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
14 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
21 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Tommy Halauwet Usulkan Bentuk Pengganti BOPI Hindari Kecelakaan Tinju

Tommy Halauwet Usulkan Bentuk Pengganti BOPI Hindari Kecelakaan Tinju
Hero Tiro (Istimewa)
Selasa, 01 Maret 2022 18:29 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Ketua Harian Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI), dr Tommy Halauwet ikut prihatin dengan kejadian yang dialami petinju Hero Tito. Petinju asal Malang ini koma akibat pendarahan otak setelah kalah KO dari James Mokoginta pada Hollywing Boxing Show di Hollywing Cafe Jakarta, Minggu (27/2/2022).

"Saya ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa Hero Tito dan berdoa agar bisa cepat sembuh," kata Tommy Halauwet yang dihubungi Selasa (1/3/2022).

Kejadian yang dialami Hero Tito bukan yang pertama kalinya. Sebelumhya juga pernah terjadi yang sampai menyebabkan kematian. Sejak tahun 1948 hingga 2013 tercatat 31 petinju tewas usai menjalani pertarungan.

Untuk tidak menambah daftar panjang petinju yang mengalami kematian, Tommy Halauwet yang mulai terlibat sebagai dokter ring mulai tahun 1988 ini mengusulkan adanya pembentukan lembaga profesional seperti Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Hanya saja, lembaga independen tersebut dibentuk pelaku olahraga profesional tanpa menggunakan dana pemerintah seperti halnya BOPI.

"Perlu lembaga independen pengganti BOPI yang menangani olahraga profesional termasuk tinju profesional agar tidak menambah daftar panjang kematian.Di Filipina saja ada Games Ammousement Board (GAB) yang merupakan lembaga independen khusus menangani olahraga profesional bekerjasama dengan pemerintah," tegasnya.

Dengan adanya lembaga independen tersebut, kata Tommy yang dokter spesialis bedah ini, kontrol terhadap perangkat pertandingan termasuk dokter ring yang mimiliki kompentesi. Begitu juga dengan petinju yang keluar negeri untuk melakukan pertandingan. 'Jika semua memiliki kompetensi maka kecelakaan di atas ring bisa diminimalisir,"tegasnya.

Perlu diketahui selama ini ada 5 lembaga independen yang menangani tinju profesional. Yakni, Komisi Tinju Indonesia (KTI) di bawah kepemimpinan Anton Sihombing, Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) yang dipimpin Manahan Sitomorang, Kemosi Tinju Profesional Indonesia (KTPI) dipimpin Ruhut Sitompul, Federasi Tinju Profesional Indonesia (FTPI) Nilasari Kusumo Anggraeni dan Federasi Tinju Indonesia (FTI).

Sementara itu, promotor Armin Tan yang dihubungi mengatakan kondisi petinju asal Malang, Hero Tito yang mengalami koma akibat pendarahan otak semakin menurun. "Kondisi Hero Tito menurun," katanya. 

Daftar petinju Indonesia yang tercatat tewas dalam sejarah tinju Indonesia :

1948; Surabaya: Jimmy Koko (lawan: Meyer)

1950; Surabaya: Rocky Wang (atau Ricky Huang)(lawan: VIC Suatman)

1959; Surabaya: Robby Pav (lawan: Mohammad Yali)

1961: Sarono (lawan: Tan Hwa Soei)

1978; Bandung: Atjeng Jim (lawan: Kai Siong)

1979: Nasir Kitu (lawan: unknown)

1980; Syamsul Bachri (lawan: unknown)

1984; Jakarta: Domo Hutabarat (lawan: Dadang Krisna)

1984; New York Akhirul Fajar (lawan Muhammad Ali)

1985; Suryanto (lawan: unknown)

1987; Jayapura: Agus Souissa (lawan: Michael Arthur)

1988; Blitar: Wahab Bahari (lawan: Hudi)

1988: Suryanto (lawan: John Bonnex)

23 Desember 1990; Bontang: Bongguk Kendy (lawan: Bisenti Santoso)

15 Juli 1993; Jakarta: Yance Samangun (lawan: Mahmud)

11 Mei 1995; Jakarta: Akbar Maulana (lawan: Bugiarso)

16 Juni 2000; Jakarta: Dipo Saloko (lawan: Roy Saragih)

18 November 2000; Belawan: Bayu Young Iray (lawan: Herianto Kalam)

11 Maret 2001; Bekasi: John Namtilu (lawan: Hasan Purba)

2 April 2001; Cibinong: Muhammad Alfaridzi (lawan: Kongthawat Ora Sorkiti)

28 Oktober 2001; Manado: Donny Maramis (lawan: Stenly Kalalo)

4 Februari 2003; Jakarta: Johannes "Bones" Fransiscus (lawan: Slamet Nizar. "Bones" wafat pada 6 Februari 2003)

21 September 2003; Sumatra Utara: Mula Sinaga - Petinju Amatir - (lawan: Asahan Tuerino. Mula Sinaga wafat pada 24 September 2003)

23 Januari 2004; Jakarta: Antonius Jonathan Mosse (lawan: Kaichon sor Vorapin)

19 Februari 2004; Purwokerto: Jack Ryan (lawan: Syamsul Hidayat)

5 Maret 2005; Jakarta: Hendrik Bira (lawan:Mones Arepas - Bira lost TKO in 3rd on March 3, 2005)

16 Juni 2006; Manado: Fadly Kasim (lawan: Jibril Soamole. Kasim kalah TKO 6)

15 Maret 2007; Jakarta: Anis Dwi Mulya (lawan: Irvan Bone). Anis kalah TKO ronde 6, wafat pada 20 Maret 2007

31 Maret 2012; Jakarta: Muhammad Afrizal alias Afrizal Cotto (lawan: Irvan Barita Marbun). Afrizal kalah angka mutlak, dan kemudian meninggal tanggal 4 April 2012 setelah menjalani operasi di bagian kepala karena mengalami pendarahan di otak di RS UKI, Jakarta

16 November 2012; Kupang: Oxon Palue (Lawan: Gerry Gio Toisuta). Hasil pertandingan seri 8 ronde. Oxon Palue kemudian mengeluh menderita keram kaki usai pertandingan, dan dinyatakan meninggal pada 20 November 2012 di rumahsakit.

27 January 2013; Jakarta: Tubagus Setia Sakti (Lawan: Ical Tobida). Hasil pertandingan Tubagus kalah TKO ronde 8 pada 26 Januari. Tubagus mengalami pendarahan otak, kemudian meninggal pada hari berikutnya di RS UKI, Cawang, Jakarta. ***

wwwwww