Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
15 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
10 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
22 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
15 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
11 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
14 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Akademisi Dorong Koalisi Besar untuk Membentuk Sistem Demokrasi Jangka Panjang

Akademisi Dorong Koalisi Besar untuk Membentuk Sistem Demokrasi Jangka Panjang
Ilustrasi Demokrasi. (gambar: ist./mulerasfireplacecom)
Jum'at, 19 Agustus 2022 21:51 WIB
JAKARTA - Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI) Cecep Hidayat pada Jumat (19/8/2022) mengatakan, Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dan Gerindra-PKB yang dikabarkan melirik partai lain untuk memperbesar berarti tengah menuju kepentingan bersama yang juga besar, termasuk membentuk sistem panjang demokrasi.

"Dengan bentukan koalisi ini kita lihat juga, jangan cuma untuk meningkatkan porsi tawar-menawar, mendapatkan calon yang elektabilitasnya tinggi, namun bagaimana bisa membentuk sistem jangka panjang, demokrasi." tegas Cecep kepada GoNEWS.co.

Baca Juga: Pengamat: Penting KIB Membangun Koalisi Besar untuk Stabilitas Pemerintahan 

Baca Juga: Kata Akademisi soal KIB dan Koalisi Gerindra-PKB 

Pemilu 2024 merupakan pemilu ke 5 setelah 1999 di era reformasi. "Harapannya, demokrasi di Indonesia dapat terkonsolidasi dengan baik, yaitu membawa Indonesia ke demokrasi yang lebih matang, yang ditandai dengan adanya kerjasama dari para elit partai politik, " jelas Cecep.

Untuk itu dia berharap koalisi membawa manfaat bagi bangsa. "Kalaupun membangun koalisi dengan membangun politik demokrasi, bukan hanya untuk jangka pendek untuk mengusung dan memuluskan calon mereka saja," tambah Cecep.

Baca Juga: Bacaan CSIS soal Peluang KIB dan Arah Koalisi PDIP 

Baca Juga: PKB: Koalisi Semut Merah bisa Jadi Naga Merah 

Setidaknya saat ini sudah ada dua poros menjelang Pemilu 2024. Yaitu KIB dikabarkan tengah mendekati Partai Demokrat, sementara Gerindra-PKB dengan PDIP. "Jika kita bicara koalisi yang terbangun di Indonesia, pengalaman dari beberapa Pemilu, biasanya bukan koalisi permanen. Selalu berubah-ubah. Koalisi di Pusat dan Daerah biasanya berbeda, Dengan bermunculannya berbagai koalisi, diharapkan proses demokrasi di Indonesia semakin sehat dan dinamis.

Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto sendiri, berulang kali mengatakan bahwa KIB bersifat inklusif, terbuka kepada siapa saja. "Kita ingin politik yang dikedepankan merupakan politik yang menyatukan, inklusif dan didasarkan pada kesamaan gagasan dan pemikiran untuk kemajuan Indonesia yang kita cintai ini," ujar Airlangga beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Masih Mendung, Koalisi PKB-PKS-Demokrat Nunggu Terang 

Namun sembari membangun koalisi, Airlangga mengingatkan para elit, terlebih yang berambisi untuk maju sebagai Capres dan Cawapres untuk mulai membuat visi misi, dan bekerja nyata dengan posisi atau jabatan mereka sekarang.

"Tunjukkan ke bawah performa mereka, sekarang yang masih ada di birokrasi, DPR, terus bekerja untuk rakyat, maka ketika Pilpres, masyarakat akan bisa memilih secara rasional. Yang dilihat adalah rekam jejak Capres dan Cawapresnya," lanjut Cecep.

Baca Juga: Anies-Sandi Suatu Keniscayaan, Tapi PKS Butuh Koalisi Selain dengan Demokrat 

Baca Juga: PDIP Bisa Usung Capres 2024 Tanpa Koalisi, Ganjar atau Puan? 

Menurutnya, dengan berkoalisi, parpol bisa memajukan calon mereka sendiri, maupun melihat-lihat calon dari partai satu koalisi, dan kemudian mengincar satu yang memiliki elektabilitas tertinggi.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Metropolitan, Nasional, DKI Jakarta
wwwwww