Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
17 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
21 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
16 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
18 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
23 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
14 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Home  /  Berita  /  Olympic

Sudah 77 Tahun Usia PLN, PKS: Jangan Ada Lagi Alasan Pemadaman Gegara Pohon Sengon!

Sudah 77 Tahun Usia PLN, PKS: Jangan Ada Lagi Alasan Pemadaman Gegara Pohon Sengon!
Ilustrasi pohon tumbang menimpa kabel PLN. (Foto: JPNN)
Jum'at, 28 Oktober 2022 16:17 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Menyambut hari ulang tahun PLN yang ke-77, anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, minta perusahaan plat merah ini dapat menyediakan listrik secara merata, efisien dan andal.

Meskipun kondisi keuangan yang kurang baik, Mulyanto, minta PLN tidak mengurangi kualitas layanan kepada masyarakat. "Permintaan, yang sekaligus harapan masyarakat kepada PLN, sebenarnya tidak banyak. Yang penting adalah terlaksananya pemerataan dan keadilan listrik, tarif listrik terjangkau daya beli masyarakat serta tidak byar-pet. Kita mendukung, agar PLN terus berkiprah untuk menerangi negeri," kata Mulyanto, Jumat (28/10/2022).

Mulyanto mengingatkan hingga hari ini PLN masih punya PR terkait rasio elektrifikasi. Ia menyebut idealnya di usia ke 77 tahun PLN dapat meningkatkan angka rasio elektrifikasi yang masih berada di kisaran angka 90 persen. Sehingga wilayah Indonesia bagian timur termasuk juga beberapa daerah di pulau Kalimantan sudah dapat menikmati listrik dan penerangan.

"PLN juga perlu melakukan efisiensi agar tarif listrik lebih terjangkau. Memang listrik PLN lebih murah dari listrik di Singapura, Thailand, Filipina, bahkan Kamboja, namun kalau dibandingkan dengan Malaysia, Vietnam atau bahkan Laos, listrik PLN masih jauh lebih mahal. Bahkan harga listrik di Malaysia hampir setengah dari harga listrik PLN," kata Mulyanto.

"Berbeda dengan Indonesia, Malaysia selain menerapkan tarif listrik progresif, mereka juga menerapkan kebijakan dimana tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga lebih murah dibandingkan dengan harga listrik untuk bisnis. Di kita tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga lebih mahal dibandingkan tarif listrik untuk bisnis," imbuhnya.

Mulyanto juga meminta, agar PLN dapat terus menjaga keandalan listriknya. Jangan disebabkan karena pohon Sengon saja, terjadi black-out listrik se-pulau Jawa. Hal seperti ini jangan sampai terulang.

Menurut Mulyanto, di usia yang semakin matang ini, PLN harus benar-benar dapat menarik hikmah dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Jangan sampai terulang kegagalan yang serupa.

Sebelumnya, karena Pemerintah salah dalam menetapkan asumsi pertumbuhan permintaan listrik (over estimated), maka PLN menjadi korban. Sampai hari ini, dampaknya masih terasa berupa over supply listrik dan utang perusahaan yang mencapai Rp. 600 triliun.

Akibatnya, hari ini keuangan PLN tertekan dan kesulitan untuk pendanaan investasi bisnisnya. Mulyanto juga minta agar PLN tidak sekedar gagah-gagahan dengan produksi listrik yang green, namun mahal. Krisis energi di Inggris, India dan China baru-baru ini adalah pengalaman yang berharga. Di tengah melambungnya harga gas dan BBM, negara-negara ini yang menyatakan siap untuk green energi, ternyata kembali membuka tambang batu bara dan menyalakan PLTU mereka.

"Bagi masyarakat kita, yang penting listrik merata, tarif terjangkau dan tidak byar-pet. Syukur-syukur bisa mendapat listrik yang bersih," tandasnya.

wwwwww