Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
21 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
16 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
3
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
15 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
4
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
13 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
5
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
18 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
6
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Umum
20 jam yang lalu
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Home  /  Berita  /  PON

Pekerjaan Terancam AI, Menteri Satryo: Inisiatif dan Etos Kerja Jadi Kunci

Pekerjaan Terancam AI, Menteri Satryo: Inisiatif dan Etos Kerja Jadi Kunci
Ilustrasi (net)
Kamis, 16 Januari 2025 23:21 WIB
JAKARTA – Perkembangan artificial intelligence (AI) semakin pesat dan mulai menggantikan berbagai pekerjaan. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Satryo Soemantri Brodjonegoro, mengingatkan bahwa tantangan di dunia kerja akan semakin berat bagi lulusan baru yang tidak memiliki keterampilan khusus.

"Ke depan tantangannya luar biasa. Banyak pekerjaan yang nanti bisa diambil alih oleh AI, robot, machine learning, dan automation," ujar Satryo di Menara Global, Jakarta, Kamis (16/1/2025).

Untuk menghadapi persaingan kerja yang semakin ketat, Satryo menekankan pentingnya soft skill yang tidak bisa digantikan oleh AI. Menurutnya, kemampuan membaca, menulis, berkomunikasi, dan memiliki etos kerja tinggi adalah faktor utama agar tetap relevan di dunia kerja.

"Terus kita kerja dimana nanti? Ya, kerja dengan ilmu yang nggak dipunyai AI. Banyak sekali itu," katanya.

Satryo menjelaskan bahwa kemampuan membaca yang dimaksud bukan sekadar memahami tulisan, melainkan juga kemampuan belajar dan menyerap informasi secara mendalam. Begitu pula dengan menulis, yang menurutnya lebih kepada bagaimana seseorang bisa menyampaikan ide dan pemikirannya secara jelas dan efektif.

"Dengan kita mampu membaca dengan baik, maka semua soal selesai. Karena kita bisa membaca, bisa menulis, bisa komunikasi menyampaikan ide," jelasnya.

CEO Keluhkan Minimnya Inisiatif Lulusan Baru

Selain itu, Satryo juga menyoroti rendahnya inisiatif di kalangan lulusan perguruan tinggi sebagai salah satu kelemahan terbesar yang dikeluhkan banyak pemimpin perusahaan.

"Saya ketemu dengan sekian ratus CEO di Indonesia, mereka bilang, 'Maaf Pak Satryo, lulusan baru ini nggak ada inisiatif. Kalau nggak disuruh, ya nggak kerja'. Itu yang jadi masalah," ungkapnya.

Menurutnya, sikap pasif ini menjadi tantangan besar bagi perusahaan dalam merekrut tenaga kerja. Banyak lulusan yang menunggu instruksi tanpa berusaha memahami pekerjaannya secara proaktif.

"Mau kerja tapi nggak ingin tahu, itu aneh. Pasif saja nunggu perintah. CEO bisa pusing dan bosnya bisa capek. Mumpung masih kuliah, perbanyak membaca dan berlatih mengambil inisiatif," tambahnya.

Dengan perubahan lanskap dunia kerja akibat AI, Satryo mengingatkan bahwa hanya mereka yang memiliki soft skill kuat dan etos kerja tinggi yang bisa bertahan. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:detik.com
Kategori:PON
wwwwww