Assaad al-Nassasra Kembali ke Gaza Setelah 37 Hari Ditahan Israel
![]() |
| Petugas medis Palestina berduka di samping jenazah rekan-rekannya yang terbunuh pada 23 Maret (foto: hatem khaled/reuters) |
Al-Nassasra dilepaskan bersama 10 tahanan Palestina lainnya melalui pos pemeriksaan Kissufim, Selasa (29/4/2025). Ia langsung dibawa ke rumah sakit di Deir el-Balah, Gaza tengah, untuk pemeriksaan kesehatan. Dalam video yang dibagikan PRCS, al-Nassasra tampak haru saat memeluk rekan-rekannya dengan mengenakan jaket merah PRCS.
Militer Israel menangkap al-Nassasra pada 23 Maret saat ia menjalankan misi kemanusiaan di wilayah Tel Al-Sultan, Rafah, lokasi serangan udara yang menewaskan 15 tenaga medis. "Dia sedang mengemudi ambulans untuk mengevakuasi korban luka," ujar PRCS.
PRCS menyebut timnya menjadi sasaran tembakan saat menuju lokasi serangan. Setelah insiden tersebut, pasukan Israel memblokir akses ke wilayah itu, membuat tim penyelamat lainnya tak bisa menjangkau lokasi. Kontak dengan al-Nassasra dan timnya hilang sejak saat itu.
Satu pekan kemudian, pejabat PBB dan otoritas Palestina menemukan ambulans yang dihancurkan dan kuburan massal. Di antara korban, terdapat delapan anggota PRCS, enam dari Pertahanan Sipil Palestina, serta satu pegawai PBB.
"Ini bukan sekadar serangan, ini pembantaian terhadap tim kami dan tragedi besar bagi misi kemanusiaan di Gaza," tulis PRCS dalam pernyataan tertanggal 30 Maret.
Menurut Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera, para tahanan yang baru dibebaskan mengaku mengalami penyiksaan fisik dan mental selama penahanan. Militer Israel sendiri mengaku telah melakukan penyelidikan dan menemukan "kegagalan profesional", meski membantah pelanggaran terhadap kode etik militernya. Seorang tentara dipecat, namun tak ada tindakan lebih lanjut. PRCS menolak temuan itu dan menuntut penyelidikan independen oleh badan PBB.
Rekan sesama penyintas, Munther Abed, menyaksikan langsung penangkapan al-Nassasra. "Ia diikat, dibawa pergi, dan sejak itu kami tidak tahu nasibnya," ungkapnya.
Putra al-Nassasra, Mohamed, mengungkapkan bahwa ayahnya terakhir kali menelepon keluarga pada malam sebelum serangan. Ia sempat mengatakan sedang dalam perjalanan ke markas PRCS untuk berbuka puasa bersama rekan-rekannya.
Setelah fajar, al-Nassasra tak lagi bisa dihubungi. Keluarga hanya menerima kabar bahwa timnya juga hilang kontak. "Setiap kali berangkat bertugas, dia bilang mungkin tidak akan kembali. Tapi kami tak pernah berhenti berharap," kata Mohamed.
Al-Nassasra dikenal sebagai sosok penuh dedikasi yang tak hanya mengevakuasi korban, tetapi juga membawa permen untuk anak-anak agar mereka tidak bermain di tempat berbahaya. "Dia ingin melindungi mereka bahkan dalam perang," ujar rekannya, Ibrahim Abu al-Kass.
Menurut data Addameer, organisasi pembela hak tahanan Palestina, lebih dari 9.900 warga Palestina kini ditahan di penjara Israel, termasuk 400 anak-anak. Sebagian besar dari mereka ditahan tanpa proses hukum melalui sistem penahanan administratif yang bisa diperpanjang tanpa batas waktu.
Selama 18 bulan agresi Israel ke Gaza, serangan terhadap tenaga medis dan jurnalis menjadi sorotan dunia internasional. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 52.300 warga Palestina tewas dan lebih dari 117.900 lainnya terluka sejak 7 Oktober 2023. ***
| Editor | : | Muhammad Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | Inilah.com |
| Kategori | : | Basket |













