Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
13 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
19 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
3
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
11 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
4
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
18 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
5
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
8 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
6
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
7 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Home  /  Berita  /  Voli

Dunia Maya Tak Lagi Aman, Ruang Siber Tak Boleh Jadi Titik Lemah Pertahanan Negara

Dunia Maya Tak Lagi Aman, Ruang Siber Tak Boleh Jadi Titik Lemah Pertahanan Negara
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid.
Rabu, 28 Mei 2025 18:29 WIB

PEKANBARU – Di tengah gelombang masif digitalisasi, kejahatan siber kian berkembang menjadi ancaman strategis yang tak bisa diabaikan. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa perlindungan ruang siber kini sama pentingnya dengan pertahanan di darat, laut, dan udara.

“Ruang siber adalah medan pertahanan modern. Kalau kita lengah, maka kedaulatan bangsa bisa runtuh dari balik layar,” ujar Meutya dalam kuliah umum di Lemhannas RI, Selasa (27/5/2025).

Ia mengajak seluruh sektor—baik pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat sipil—untuk bersatu membangun benteng digital yang kokoh. Sebab, menurutnya, kejahatan siber tak hanya berdampak pada individu, tapi juga mengancam stabilitas nasional.

Meutya menyoroti maraknya penyebaran hoaks dan disinformasi yang kerap memicu polarisasi sosial dan memperkeruh dinamika politik.

“Hoaks bukan sekadar gangguan informasi. Ia bisa menjadi alat adu domba yang menghancurkan sendi kebangsaan,” jelasnya.

Ancaman lain seperti serangan ransomware dan kebocoran data terhadap infrastruktur vital negara juga disebut Meutya sebagai bukti bahwa pertahanan digital Indonesia masih rentan. Ia menekankan bahwa institusi militer, pemerintahan, dan sistem layanan publik harus segera memperkuat sistem keamanan digital mereka.

Sebagai bentuk tanggung jawab negara, Kementerian Komdigi telah menerbitkan Perpres Nomor 47 Tahun 2023 tentang Strategi Keamanan Siber Nasional. Namun, Meutya mengingatkan bahwa regulasi hanyalah langkah awal.

“Tanpa kolaborasi lintas sektor dan edukasi literasi digital yang merata, ruang siber akan tetap menjadi titik rawan bangsa ini,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya membangun kesadaran masyarakat agar bijak dan waspada dalam menggunakan ruang digital, termasuk tidak mudah terjebak dalam informasi palsu yang beredar luas di media sosial.

“Mari kita jaga Indonesia, tak hanya dari ancaman fisik, tapi juga dari ancaman digital,” tutupnya.

Sementara itu, Gubernur Lemhannas RI, Ace Hasan Syadzily, mendukung penuh seruan Menkomdigi. Ia menyebut bahwa kerapuhan ruang siber bisa menjadi celah yang dimanfaatkan pihak luar untuk melemahkan ketahanan nasional.

“Pertahanan tidak akan kokoh jika dinding sibernya berlubang,” pungkas Ace. ***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Kategori:Voli, Metropolitan
wwwwww