Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
21 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
15 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
19 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
4
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
16 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
20 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
15 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Home  /  Berita  /  Umum

Kritik Munas BEM SI, 15 BEM Protes Kedekatan dengan Elit Kekuasaan

Kritik Munas BEM SI, 15 BEM Protes Kedekatan dengan Elit Kekuasaan
Illustrasi (net)
Minggu, 27 Juli 2025 23:33 WIB

JAKARTA – Sebanyak 15 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai kampus di Yogyakarta dan Jawa Tengah mengirimkan surat protes resmi kepada pengurus BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan. Aksi ini menyusul keprihatinan mereka atas pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) BEM SI di Universitas Dharma Andalas, Padang, yang dinilai menyimpang dari nilai-nilai demokrasi gerakan mahasiswa.

Surat yang bertanggal 26 Juli 2025 itu diteken seluruh ketua BEM dari 15 kampus, termasuk Universitas Sanata Dharma, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Muhammadiyah Kudus. Surat tersebut digagas oleh Ketua BEM Soegijapranata Catholic University, Ariendra Wirya Prananda, dan Ketua BEM Universitas Muria Kudus, Abdullah In’am Maulana.

 

“Kami menuntut pemulihan integritas BEM SI Kerakyatan dan mendorong kembalinya semangat kemahasiswaan yang murni dan progresif,” kata Ariendra dalam siaran pers yang dikirim Ahad (27/7).

 

Isi surat menyebut kekhawatiran mereka terhadap kekerasan dalam forum, praktik politik praktis, dan kedekatan dengan elite kekuasaan, termasuk kehadiran pejabat negara seperti Menteri Pemuda dan Olahraga serta aparat keamanan. Mereka menilai hal ini mencederai independensi gerakan mahasiswa.

 

Berbeda dengan empat BEM yang memutuskan keluar dari aliansi, 15 BEM ini memilih mengirimkan surat dan menunggu tanggapan. Mereka mendesak Koordinator Pusat BEM SI Kerakyatan memberi sanksi kepada pelaku kekerasan, mengevaluasi pelanggaran SOP Munas, dan mengembalikan marwah organisasi.

 

Sementara itu, panitia Munas, Rifaldi, membantah ada intervensi kekuasaan. “Kami berkomitmen itu tidak ganggu independensi kami untuk mengkritik kekuasaan,” ujarnya. Kehadiran para pejabat, menurutnya, hanya bagian dari seremoni yang digelar Forkopimda Sumbar.

 

Koordinator Media BEM SI Kerakyatan, Pasha Fazillah Afap, menyebut keluar-masuknya kampus dari aliansi sebagai dinamika yang biasa terjadi. “Perbedaan pandangan itu wajar selama tidak membentuk opini yang menyesatkan,” jelasnya. ***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:tempo.co
Kategori:Voli, Metropolitan, Umum, DKI Jakarta, Sumatera Barat
wwwwww