Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
15 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
2
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
11 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
3
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
12 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
4
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
17 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
5
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
10 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
6
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
23 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Home  /  Berita  /  Automotif

Anak Obesitas dan Gagal Ginjal Bertambah, Pemerintah Didesak Segera Terapkan Cukai MBDK

Anak Obesitas dan Gagal Ginjal Bertambah, Pemerintah Didesak Segera Terapkan Cukai MBDK
Diskusi bahas pentingnya penerapan segera cukai MBDK. (Ist)
Senin, 04 Agustus 2025 16:40 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA- Pemerintah Republik Indonesia dalam masa kepemimpinan Prabowo Subianto didesak segera menerapkan cuka Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK). Pasalnya, anak gagal ginjal akibat mengonsumsi MBDK terus bertambah.

Ketua Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia, Ari Subagyo menegaskan perlunya peran media dalam memberikan informasi masyarakat mengenai advokasi pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) dan regulasi MBDK. "Sebagaimana kita ketahui, salah satu dampak buruk sering mengkonsumsi MBDK dapat menimbulkan PTM seperti diabetes, gagal ginjal, dan sebagainya," kata Ari, saat acara diskusi di kawasan Jalan Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (4/8). Ari menegaskan, MBDK wajib dikenakan cukai seperti produk rokok atau alkohol serta mencantumkan label peringatan. "Perjuangan ini sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Bahkan, sejak tahun 2016, pemerintah sudah membahas masalah cukai, tapi anehnya sampai hari ini tak kunjung realisasi," ucapnya. Ia menyebut, jika cukai tak kunjung diterapkan, Indonesia makin sulit mewujudkan Generasi Emas. "Generasi kita sudah pasti akan makin lemah dan sakit-sakitan karena tiap hari dicekoki MBDK yang harganya sangat murah karena tidak ada cukai," ungkapnya. Ari menyayangkan, Pemerintah RI yang belum menerapkan cukai MBDK. Padahal negara-negara lain, termasuk di Asia Tenggara sudah menerapkan cukai MBDK. "Saya tentu menyesalkan, negara kita seolah-olah lebih mementingkan kepentingan industri dibandingkan kesehatan warganya," terang Ari. Ketua Pengurus Yayasan Ginjal Anak Indonesia, Agustya Sumaryati memaparkan, dari tahun ke tahun jumlah anak penderita PTM akibat mengonsumsi MBDK terus meningkat. "Sejak beberapa tahun ini, anak yang menderita diabetes maupun gagal ginjal terus meningkat. Menurut testimoni anak maupun orangtuanya karena sering mengonsumsi MBDK yang berlebihan," ujarnya. Sementara itu, salah seorang warga Kelurahan Cilincing, Kecamatan Cilincing Jakarta Utara, Siti Rohmani menyampaikan, anaknya yang bernama Ibrahimovic didiagnosis mengalami gagal ginjal sejak berusia 12 tahun. "Anak saya, Baim, setiap hari sering mengonsumsi MBDK karena tergiur harganya murah. Resikonya sangat berbahaya anak saya harus rutin cuci darah sampai saat ini berusia 15 tahun," pungkas Siti. Untuk diketahui acara diskusi ini dipandu oleh moderator, Wakil Ketua FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan. ***

wwwwww