Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
15 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
19 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
14 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
17 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
21 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
12 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Home  /  Berita  /  Voli

Sultan HB X Jadi Penengah, Delapan Pedemo Dibebaskan dan Aksi Jogja Berakhir Tanpa Bentrok

Sultan HB X Jadi Penengah, Delapan Pedemo Dibebaskan dan Aksi Jogja Berakhir Tanpa Bentrok
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mendatangi Markas Polda DIY, Jumat malam (29/8/2025), di tengah aksi demonstrasi yang masih berlangsung. (Foto: Pemda DIY)
Sabtu, 30 Agustus 2025 16:00 WIB

YOGYAKARTA – Malam penuh ketegangan di Mapolda DIY, Sleman, berubah menjadi peristiwa yang dikenang sebagai momen damai. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, turun tangan langsung menemui ribuan massa aksi, Jumat (29/8/2025) malam.

Kehadiran Sultan menjadi titik balik. Dengan tenang, ia mengumumkan bahwa delapan pedemo yang sempat diamankan polisi telah dibebaskan. “Saya sudah berbicara dengan Bapak Kapolda. Bersama saya ada delapan orang teman-teman anda. Bersama ini saya kembalikan kepada saudara-saudara,” ucap Sultan, disambut sorak riuh dan tepuk tangan massa.

Suasana makin khidmat saat gendhing Raja Manggala diputar melalui pengeras suara. Sang Raja Keraton Yogyakarta bukan sekadar pejabat, melainkan simbol moral yang hadir di tengah rakyat. Ia meminta agar aspirasi disuarakan tanpa kekerasan, sembari menegaskan kesediaannya menjadi jembatan antara masyarakat Jogja dan pemerintah pusat.

“Saya menghargai apa yang anda lakukan. Itu bagian dari demokratisasi. Namun demokrasi harus kita jalani dengan cara yang baik, tanpa merusak atau melukai,” ujar Sultan.

Sebelum meninggalkan lokasi bersama dua putrinya, Gusti Kanjeng Ratu Hayu dan Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono, Sultan mengajak massa pulang dengan tenang. “Mari kita sama-sama pulang dan beristirahat. Besok kita bisa berdiskusi lagi,” katanya.

Aksi di Mapolda DIY semula berlangsung panas. Sejak sore, massa sempat membakar dua mobil, merusak pagar, videotron, hingga pos polisi di simpang Condongcatur. Semua dipicu kemarahan atas meninggalnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online, yang tewas dilindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta.

Namun, malam itu Jogja menunjukkan wajah lain. Bukan lagi amarah yang tersisa, melainkan peristiwa damai yang lahir dari kepemimpinan seorang Sultan yang memilih berdiri bersama rakyat. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Kategori:Voli, Metropolitan, DI Yogyakarta
wwwwww