Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
12 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
12 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
3
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
7 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
4
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
7 jam yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
5
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
6 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
6
Pujian Cara Pemain Bali United Berjuang Raih Kemenangan Tandang Perdana
Sepakbola
7 jam yang lalu
Pujian Cara Pemain Bali United Berjuang Raih Kemenangan Tandang Perdana
Home  /  Berita  /  Nasional

Dana Rp200 Triliun Pindah ke Bank BUMN, Rupiah Terdorong Menguat

Dana Rp200 Triliun Pindah ke Bank BUMN, Rupiah Terdorong Menguat
Petugas menghitung uang dollar AS di tempat penukaran valuta asing.
Kamis, 11 September 2025 17:33 WIB

JAKARTA – Pergerakan rupiah pada Kamis (11/9/2025) menutup perdagangan dengan catatan positif setelah pemerintah mengumumkan langkah besar: menarik dana mengendap Rp200 triliun dari Bank Indonesia (BI) untuk ditempatkan di bank-bank Himbara.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut kabar ini memberi sentimen kepercayaan bagi pasar. “Ini memberi sinyal positif pada likuiditas domestik,” ujarnya.

Rupiah menguat tipis delapan poin atau 0,05 persen ke level Rp16.462 per dolar AS. Namun, kurs acuan JISDOR BI justru mencatat pelemahan ke Rp16.468 per dolar AS.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, sebelumnya menegaskan langkah tersebut sudah disetujui Presiden Prabowo Subianto. Dari total simpanan pemerintah Rp425 triliun di BI, sebanyak Rp200 triliun akan dialihkan ke bank BUMN untuk memperkuat likuiditas perbankan dan mempercepat penyaluran kredit.

Dana tersebut bersumber dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan Sisa Lebih Pembayaran Anggaran (SiLPA). “Belanja pemerintah yang lambat selama ini membuat sistem keuangan kering. Dengan penempatan dana di bank, kredit bisa lebih deras mengalir ke masyarakat,” jelas Purbaya.

Selain faktor domestik, rupiah juga dipengaruhi dinamika global. Pasar tengah menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), terutama Core CPI, yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Jika inflasi AS sesuai atau di bawah ekspektasi, peluang pemangkasan suku bunga terbuka, dolar melemah, dan rupiah berpotensi menguat. Namun bila lebih tinggi, rupiah bisa kembali tertekan.

Josua memproyeksikan rupiah pada Jumat (12/9/2025) bergerak di kisaran Rp16.420–Rp16.500 per dolar AS. “Kecenderungan stabil, tapi pasar tetap berhati-hati menunggu sinyal dari The Fed,” katanya.

Langkah pemerintah memindahkan dana mengendap ini dipandang tidak hanya sebagai kebijakan fiskal, tetapi juga strategi politik ekonomi untuk memperlihatkan bahwa uang negara benar-benar digerakkan demi pertumbuhan. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Nasional, Voli, Ekonomi
wwwwww