Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
17 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
20 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
16 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
18 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
22 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
14 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Home  /  Berita  /  PON

Yusril Kritik DPR Dikuasai Oligarki, Dorong Partai Terapkan Merit System

Yusril Kritik DPR Dikuasai Oligarki, Dorong Partai Terapkan Merit System
Jum'at, 12 September 2025 20:59 WIB

JAKARTA – Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan perlunya reformasi politik menyeluruh untuk memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia. Menurutnya, parlemen saat ini terlalu banyak diisi oleh figur yang muncul dari jalur selebritas, dinasti politik, maupun dukungan oligarki.

“Sulit mengharapkan DPR yang berkualitas dengan sistem seperti sekarang. Banyak anggota ditempatkan di komisi tanpa memahami bidangnya, bahkan ada yang malas belajar,” kata Yusril dalam perbincangan di kanal Akbar Faizal Uncensored, Kamis (11/9/2025).

Yusril menyoroti riset lembaga independen yang menunjukkan 99 persen anggota DPR berasal dari praktik oligarki dan dinasti politik. “Kalau bukan istri bupati, anak gubernur, ya kerabat pejabat. Ada juga yang masuk karena dibiayai oligarki demi mengamankan kepentingan mereka,” ujarnya.

Sebagai solusi, Yusril mengusulkan revisi UU Pemilu dan UU Partai Politik. Ia menekankan agar pencalonan anggota legislatif berbasis merit system, bukan popularitas atau uang. Standar minimal, kata Yusril, harus diberlakukan, termasuk latar belakang pendidikan.

“Partai harus kembali demokratis dan transparan. Seleksi caleg jangan hanya berdasarkan ketenaran atau modal finansial. Yang kita butuhkan adalah negarawan, bukan politisi instan,” tegasnya.

Ia juga menilai perlu ada skema pembiayaan partai oleh negara dengan audit ketat oleh BPK dan KPK. Menurut Yusril, kebijakan ini bisa menekan praktik politik uang dan mencegah anggota DPR menggunakan jabatannya untuk “balik modal”.

Namun ia mengakui, inisiatif revisi undang-undang politik sulit lahir dari DPR sendiri. Karena itu, Yusril menilai Presiden Prabowo Subianto harus turun tangan. “Kalau presiden tegas memimpin, reformasi politik bisa menjadi warisan besar bagi bangsa,” katanya.

Reformasi ini semakin relevan setelah Mahkamah Konstitusi menghapus presidential threshold 20 persen, membuka peluang lebih banyak calon presiden bersaing. “Sistem lama yang menutup ruang rakyat sudah tidak bisa dipertahankan. Reformasi politik adalah jalan memperkuat demokrasi kita,” pungkasnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:gelora.co
Kategori:PON, Nasional, Voli, Metropolitan, Ekonomi
wwwwww