Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
17 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
17 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
10 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
4
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
19 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
5
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
19 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
6
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
19 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Home  /  Berita  /  Basket

Ancaman Tarif Trump Bisa Meledakkan Perang Dagang Baru, China Tak Mundur

Ancaman Tarif Trump Bisa Meledakkan Perang Dagang Baru, China Tak Mundur
Ilustrasi kilang minyak. Harga minyak mentah naik karena sanksi AS Terhadap Rusia.
Selasa, 16 September 2025 11:00 WIB

BEIJING – Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan China kian meningkat setelah Presiden Donald Trump mengancam bakal mengenakan tarif hingga 100 persen terhadap produk asal Negeri Tirai Bambu. Ancaman itu muncul karena Beijing tetap membeli minyak Rusia meski sekutu Barat telah menutup keran impor.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dengan tegas menolak tekanan Washington. Ia menyebut kerja sama energi dengan Rusia adalah hak sah yang tidak melanggar hukum internasional. “Langkah sepihak AS adalah bentuk intimidasi ekonomi yang merusak stabilitas global,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (15/9/2025).

Trump sebelumnya menulis di Truth Social bahwa tarif tinggi terhadap China dibutuhkan untuk “mematahkan kendali Beijing atas Rusia.” Ia juga menuding NATO masih belum kompak menghadapi Moskow karena sebagian anggotanya terus membeli minyak Rusia.

China mengingatkan, bila kepentingan nasionalnya terganggu, balasan setimpal akan dijatuhkan. “Kami tidak segan mengambil tindakan keras untuk melindungi kedaulatan dan pembangunan kami,” kata Lin Jian.

Kondisi ini berpotensi memicu perang dagang jilid baru. Sebelumnya, perang tarif era Trump 2018–2019 telah mengguncang pasar global dan melemahkan rantai pasokan. Kini, dengan Rusia sebagai faktor pemicu, eskalasi bisa lebih luas dan menyentuh sektor energi dunia.

Uni Eropa dan negara G7 memang sudah memberlakukan batas harga minyak Rusia, namun Moskow justru memperbesar penjualan ke China dan India. Akibatnya, AS meningkatkan tekanan, termasuk dengan menjatuhkan tarif tambahan 25 persen pada India.

Analis menilai, jika Trump benar-benar merealisasikan ancamannya, harga minyak dan komoditas global bisa melonjak tajam. Negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi ikut terkena dampaknya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Basket, DKI Jakarta
wwwwww