Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
13 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
Kemenpora
23 jam yang lalu
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
3
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
7 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
6 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
7 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
6 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Ekonomi

SGY Bantah Klaim Pasar di Jakarta Kumuh

SGY Bantah Klaim Pasar di Jakarta Kumuh
Ketua KATAR, Sugiyanto atau akrab disapa SGY. (Ist)
Jum'at, 19 September 2025 16:46 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA- Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto (SGY) menegaskan, klaim Ketua Umum Pusat Koperasi Pedagang Pasar (Puskoppas), Gusnal yang menyebut 40 persen pasar tradisional di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya dalam kondisi kumuh adalah keliru.

SGY menuturkan, dirinya telah lama mengikuti perkembangan 153 pasar tradisional di Jakarta sejak era Gubernur DKI Jakarta dijabat Fauzi Bowo (Foke). Bahkan, ia pernah mengunjungi hampir seluruh pasar tradisional tersebut. 

 
"Saat itu saya aktif berbicara mengenai pasar tradisional melalui lembaga Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis), baik sebagai Ketua maupun Direktur. Rekam jejaknya masih ada, salah satunya saat pembongkaran Pasar Koja pada 2009. Saya terlibat aktif melakukan advokasi kepada pedagang," kata SGY, melalui keterangan tertulis, Jumat (19/9).
 
Menurutnya, penggunaan istilah “kumuh” tidak tepat. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kumuh berarti kotor atau cemar. Dalam konteks perkotaan, kawasan kumuh merujuk pada hunian yang padat, bangunannya berdempetan, berkualitas buruk, serta minim sarana dan prasarana dasar seperti sanitasi dan air bersih. 
 
"Kalau pengertian itu diterapkan pada pasar tradisional, maka kondisi kumuh berarti bangunan pasar rusak parah, lingkungan tidak sehat, dan fasilitas dasar terbatas. Tidak logis jika disebut ada 60 pasar di Jakarta benar-benar kumuh," jelasnya.
 
SGY menyebut data resmi Pasar Jaya 2025 menunjukkan hanya 34 pasar (22 persen) yang kondisi bangunannya rusak. Sisanya, 30 pasar dalam kondisi cukup baik, 80 pasar dalam kondisi baik, dan sembilan pasar dalam tahap pembangunan. 
 
"Tren perbaikan pun jelas terlihat, dari 55 pasar rusak pada 2022, turun menjadi 44 di 2023, lalu 34 di 2024 dan 2025," paparnya.
 
Lebih jauh, SGY mengungkap, Pasar Jaya telah melakukan berbagai langkah nyata. Sebanyak 67 pasar sudah dicat ulang eksteriornya, seperti Pasar Gondangdia, Pasar Paseban, Pasar Baru, Pasar Tomang Barat, Pasar Gang Kancil, dan Pasar Jatinegara. Revitalisasi besar dengan anggaran Penyertaan Modal Daerah (PMD) juga dilakukan terhadap 9 pasar, antara lain Pasar Jatirawasari, Pasar Cilincing, Pasar Heksagon, Pasar Kalideres, Pasar Sumur Batu, dan Pasar Kombongan.
 
"Kerja sama dengan pihak ketiga dilakukan untuk revitalisasi 3 pasar lainnya, yakni Pasar Induk U Shape, Pasar Pramuka, dan Pasar Jembatan Besi. Perawatan sipil serta mekanikal dan elektrikal di 99 pasar pun dijalankan, termasuk waterproofing dan epoxy di Pasar Cipulir, perbaikan saluran air di Pasar Sunter Podomoro, pengaspalan Pasar Jembatan Lima, perbaikan panel listrik di Pasar Senen, hingga perbaikan AC di Pasar Glodok," bebernya.
 
SGY menambahkan, revitalisasi toilet pasar juga mendapat perhatian. Pada 2024, lima pasar diperbaiki fasilitas toiletnya, yakni Pasar Palmeriem, Pasar Santa, Pasar Mampang Prapatan, dan Pasar Tanah Abang Blok B. Pasar Jaya bahkan membangun 11 lapangan bulutangkis dan 8 lapangan futsal di atas pasar, misalnya di Pasar Palmerah, Pasar Kenari, Pasar Baru, Pasar Tebet Barat, Pasar Grogol, Pasar Sawah Besar, dan Pasar Tebet Timur.
 
Dari sisi modernisasi, Pasar Jaya telah mengembangkan sistem penagihan Biaya Pengelolaan Pasar (BPP) berbasis digital. Pada 2024, sistem ini diterapkan di 27 pasar, seperti Pasar Glodok, Pasar Pagi, Pasar Sawah Besar, dan Pasar Pelita melalui kerja sama dengan Bank Mandiri dan Bank DKI. Pembayaran digital juga diperluas bersama BRI, BCA, Mandiri, GoPay, dan mitra lain. 
 
Hingga tahun 2024, ada 57 pasar yang menggunakan sistem ini, termasuk Pasar Tomang Barat, Pasar Bendungan Hilir, Pasar Tanah Abang Blok B, dan Pasar Pulau Gadung. Program pemasaran kios berbasis digital pun diterapkan di sejumlah pasar, seperti Pasar Kramat Jati, Pasar Palmeriem, Pasar HWI Lindeteves, dan Pasar Sunter Podomoro.
 
Namun demikian, SGY mengingatkan bahwa revitalisasi pasar membutuhkan dukungan semua pihak. Dana besar diperlukan, dan partisipasi pedagang dalam membayar BPP sangat vital. Sayangnya, piutang BPP terus meningkat, bahkan mencapai Rp217,19 miliar pada April 2025. 
 
"Padahal dana ini sangat dibutuhkan untuk perawatan dan pelayanan pasar. Saya tahu pedagang sudah menyampaikan aspirasi mereka kepada Pasar Jaya maupun langsung kepada Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo," ungkapnya.
 
Meski begitu, SGY menilai kepedulian Gubernur Pramono patut diapresiasi. 
Respons Gubernur sangat tenang, elegan, cerdas, dan terukur. Pada 16 September 2025, beliau menegaskan komitmennya untuk terus melakukan revitalisasi pasar tradisional, tanpa menyalahkan pedagang maupun Pasar Jaya. 
 
"Semua demi kebaikan masyarakat Jakarta. Ini sikap bijaksana dari seorang pemimpin ibu kota," pungkas SGY. ***

wwwwww