Indonesia Kembali Didengar Dunia, Pidato Presiden Prabowo di PBB Tegaskan Solusi Dua Negara dan Salam Universal
![]() |
| Presiden RI Prabowo Subianto saat pidato di Sidang Majelis Umum PBB. (Foto: Biro Pers Setneg) |
Penulis: Oleh: Pengamat Sosial Duddy S. Sutandi, SE.
Dengan gaya retorika yang lugas dan penuh wibawa, Prabowo bukan hanya menyuarakan amanat konstitusi untuk menentang penjajahan, tetapi juga menawarkan solusi konkret atas konflik paling pelik di dunia: Palestina–Israel.
Sejak awal, pidato Presiden RI ini telah memancing perhatian karena Indonesia mendapat kesempatan berbicara pada urutan ketiga setelah Brasil dan Amerika Serikat. Posisi yang biasanya hanya ditempati negara-negara tertentu ini jelas mencerminkan respek dunia terhadap Indonesia. Sebuah kehormatan luar biasa yang tidak hanya ditujukan pada pribadi Prabowo, melainkan juga pada bangsa Indonesia.
Isi pidato pun memberi warna tersendiri. Dengan tegas, Prabowo menyatakan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah solusi dua negara (two-state solution). Artinya, dunia harus mengakui Palestina sebagai negara yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat. Namun di saat yang sama, dunia juga perlu mengakui serta menjamin keselamatan Israel. Pesan ini menggarisbawahi keberanian Indonesia untuk menyuarakan keadilan secara seimbang, tanpa terjebak pada bias kepentingan blok.
Lebih jauh, Prabowo mengingatkan bahwa konflik Gaza berkepanjangan juga disebabkan oleh lemahnya solidaritas dunia Islam. Kritik ini terdengar tajam, tapi jujur, dan menunjukkan bahwa Indonesia berani menegur sahabat sendiri demi membela kemanusiaan. Di sisi lain, Prabowo menyoroti standar ganda negara-negara Barat yang justru memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.
Puncak perhatian publik terjadi ketika Prabowo menutup pidatonya dengan salam universal lintas tradisi: “Shalom Aleichem, Om Swastiastu, Om Santi Santi Santi Om.”
Gestur ini mendapat sambutan hangat, bukan hanya dari forum sidang, tetapi juga dari media-media di Israel, India, hingga negara-negara berpenduduk Hindu-Buddha. Salam tersebut menjadi simbol diplomasi jembatan (bridge diplomacy) yang berupaya menyatukan perbedaan di tengah jurang konflik.
Apa yang dilakukan Presiden Prabowo di PBB adalah pesan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar penonton dalam isu global. Kita hadir sebagai aktor penting, dengan suara yang autentik, berdaulat, dan berani. Dunia kini menyaksikan Indonesia berdiri tegak, tidak diombang-ambingkan kepentingan kekuatan besar, melainkan menawarkan solusi yang adil dan manusiawi bagi peradaban. ***
| Editor | : | Azhari Nasution |
| Kategori | : | Nasional, Kemenpora, DKI Jakarta |













