Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
18 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
13 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
17 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
17 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
14 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
13 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Home  /  Berita  /  KONI

Menkeu Purbaya Tegaskan Utang Kereta Cepat Bukan Urusan APBN

Menkeu Purbaya Tegaskan Utang Kereta Cepat Bukan Urusan APBN
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa
Sabtu, 11 Oktober 2025 19:09 WIB

JAKARTA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan pemerintah tidak akan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menutup utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh. Ia menyebut tanggung jawab pembayaran utang sepenuhnya berada di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia yang menaungi proyek tersebut.

“Utang KCIC dibiayai APBN, saya belum dihubungi soal itu. Nanti kalau ada pembahasan resmi, saya akan sampaikan perkembangannya,” ujar Purbaya dalam Media Gathering Kementerian Keuangan 2025 di Novotel Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/10/2025).

Menurut Purbaya, hingga kini belum ada pembahasan formal di Kementerian Keuangan terkait usulan agar sebagian utang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) ditanggung oleh negara. Ia menilai Danantara memiliki kekuatan finansial untuk menyelesaikan masalah itu tanpa harus melibatkan APBN.

“Kalau di bawah Danantara, mereka sudah punya manajemen dan dividen sendiri. Pendapatan tahunan mereka bisa mencapai Rp80 triliun atau lebih,” ungkapnya.

Ia menegaskan, pemerintah tidak boleh terus-menerus menanggung beban keuangan dari proyek yang bersifat komersial. Purbaya menilai, proyek seperti Whoosh harus dikelola secara mandiri sesuai dengan prinsip bisnis, bukan dengan dana publik.

“Harusnya mereka kelola dari situ, jangan minta ke APBN lagi. Karena kalau terus begitu, nanti semua kembali ke pemerintah, termasuk dividennya. Padahal, ini kan sudah dipisahkan antara sektor swasta dan pemerintah,” jelasnya. 

Lebih lanjut, Purbaya mengingatkan pentingnya pemisahan tanggung jawab antara proyek pemerintah dan korporasi. Ia menilai praktik pembiayaan yang kabur batasnya bisa merugikan keuangan negara.

“Jangan kalau untung disebut swasta, tapi kalau rugi dilempar ke pemerintah. Itu yang harus dihindari,” tegasnya.

Sebelumnya, BPI Danantara menyiapkan dua opsi untuk menuntaskan utang proyek kereta cepat yang kini menekan neraca keuangan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Dua opsi tersebut adalah penyertaan modal tambahan kepada KAI atau penyerahan infrastruktur kereta cepat kepada pemerintah.

Sebagai informasi, proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung dijalankan oleh PT KCIC, perusahaan patungan antara konsorsium BUMN Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan mitra China. Sekitar 75 persen pembiayaan proyek berasal dari pinjaman China Development Bank, sedangkan sisanya ditanggung pemegang saham seperti KAI, Wijaya Karya, PTPN I, dan Jasa Marga. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnnindonesia.com
Kategori:KONI, DKI Jakarta
wwwwww