Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
17 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
18 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
11 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
4
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
19 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
5
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
9 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
6
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
19 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Home  /  Berita  /  Badminton

Krisis Air Bersih di Kampung Apung, Warga Mandi Air Sumur Keruh dan Beli Air Pikulan

Krisis Air Bersih di Kampung Apung, Warga Mandi Air Sumur Keruh dan Beli Air Pikulan
Penampakan Kampung Apung, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat dari atas udara pada Kamis (2/11/2023). (foto: iqbal firdaus/kumparan)
Selasa, 28 Oktober 2025 09:37 WIB

JAKARTA – Warga Kampung Apung Kapuk Teko, RT 10/RW 01, Kalideres, masih bergantung pada air sumur keruh untuk mandi dan mencuci, sementara kebutuhan minum dan masak dipenuhi dari air pikulan yang dibeli harian. Ketua RT 10, Rudi, 55, menyebut harga air gerobak kini Rp6.000–Rp7.000 per pikul, dengan konsumsi 2–5 pikul per minggu per rumah tangga. “Kalau untuk air minum, air masak kita harus beli air isi ulang, air gerobak. Makanya dari dulu banyak warga itu minta pengajuan PAM,” ucapnya, Senin (27/10/2025).

Rudi menuturkan kualitas air tanah mulai turun sejak kawasan kerap tergenang dan diduga tercemar sejak pertengahan 1990-an. “Sekitar tahun 80 lewat, udah mau tahun 90-an tuh sudah mulai kerendam. Kampung kita sering banjir. Nah 90-an pertengahan itu sudah sama sekali nggak bisa digunain buat masak,” ujarnya.

Warga lain, Usman, 60, mengatakan pola ini berlangsung setiap hari. “Kalau kita minum, air pikul beli,” katanya. Sementara untuk keperluan harian, warga terpaksa tetap menggunakan air sumur yang berwarna kekuningan dan berbau. “Mandi, nyuci, ini. Emang kalau kayak minum, udah nggak layak diminum,” lanjutnya.

Permohonan sambungan air PAM disebut sudah diajukan dua bulan terakhir, namun belum ada realisasi. “Jadi ada dua bulanan, kayaknya udah ada,” ujar Usman. Ia juga berharap pemerintah ikut membenahi fasilitas umum. “Warga paling mintanya memang nggak neko-neko sih. Bikin fasilitas umum, kayak sekolahan, puskesmas. Pemerintah juga punya masuknya. Bukannya ke per orang,” tuturnya.

Kondisi sanitasi kian mengkhawatirkan. Air sumur untuk mandi berwarna kuning dan menyisakan bekas karat di MCK umum. “Kalau cuma untuk mandi, cuci piring apa itu masih bisa digunain sih. Air sumur itu masih bisa,” kata Rudi.

Keluhan mengenai air keruh dan tak layak konsumsi juga datang dari warga Kapuk Teko, Muara Angke, terutama di Kalideres dan Cengkareng. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan telah memerintahkan penyaluran bantuan air bersih. Dalam laporan yang diterimanya disebut, “Air PAM juga enggak masuk. Ketika air keluar bening, tapi 20–30 menit kemudian keruh dan tidak bisa dikonsumsi,” ucapnya, Senin (27/10/2025).

Wali Kota Jakarta Barat, Uus Kuswanto, menegaskan koordinasi dengan PAM segera dilakukan. “Segera saya koordinasi dengan PAM untuk dikirimkan air bersih. Karena memang betul untuk Cengkareng dan Kalideres, kekurangan air bersih dan akses PAM masih dalam proses. Insyaallah dalam waktu dekat nanti masuk,” ujarnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Badminton, Automotif, DKI Jakarta
wwwwww