Rakornis IOA, Bahas Calon Presiden WOA dan Program Tahun 2026
![]() |
| Yayuk Basuki Oly saat memimpin Rakornis IOA. (Ist) |
Penulis: Azhari Nasution
Dalam Rakornis yang berlangsung di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (29/10/2025) kemarin, juga disinggung tentang persiapan pemilihan Ketua Umum IOA masa bakti 2026 -2030. Terutama menyangkut pembentukan Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) untuk Musyawarah Nasional (Munas) IOA yang rencanyanya akan digelar Mei tahun depan.
“Rakornis ini digelar selain untuk membahas perkembangan soal WOA terutama untuk pemilihan Presiden, Sekjen dan Bendahara kepengurusan WOA 2026-2030 dalam Sidang Umum di Monaco, November nanti. Sudah muncul beberapa nama untuk kandidat. Inilah yang kita bahas di Rakornis ini untuk nanti diajukan di Monaco,” kata Ketua Umum IOA, Yayuk Basuki OLY.
Lebih lanjut, Yayuk menyatakan, sesuai dengan masukan dalam Rakornis yang dihadiri sekitar 25 Olympian itu, siapa kandidat yang akan dipilih nanti masih perlu dibahas melalui forum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) atau rapat pleno IOA. Sesuai dengan masukan peserta Rakornis, maka calon yang sudah ditentukan itu nantinya akan disampaikan kepada National Olympic Committee (NOC) of Indonesia atau Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang merupakan mitra dari IOA.
“Ya, kita juga mulai membahas persiapan pelaksanaan Munas IOA 2026 yang juga akan memilih Ketua Umum. Selebihnya tentu untuk silaturahmi dan diskusi tentang dinamika olahraga nasional maupun internasional terutama menuju Olimpiade Los Angeles 2028 mendatang,” ujar Yayuk.
Seperti disebutkan oleh Bendahara IOA, Ling Ling Agustin OLY yang selalu aktif mengikuti pertemuan dengan WOA, ada 5 kandidat untuk Presiden, Sekjen dan Benadara WOA nanti. Kelima kandidat itu adalah Anthony Ledgard (Peru), Lee Yang (Taipei), Patrick Singleton (Inggris), German Glessner (Brasil) dan Mikako Kotani (Jepang).
Menurut Ling Ling, selain mengajukan kandidat yang akan dilipilih di Sidang Umum WOA, IOA juga perlu terus menjaga komunikasi dengan WOA, menyiapkan laporan aktivitas IOA untuk dikirim ke WOA sebagai bentuk akuntabilitas.
“Penting juga meningkatkan koordinasi dengan NOC Indonesia (KOI) agar selaras dalam implementasi nilai-nilai olympism. Selain itu berpartisipasi aktif dalam WOF dan EGA di Monaco sebagai dukungan soliditas WOA,” kata Ling Ling yang mantan petenis meja andal Indonesia itu.
Dari floor Rakornis, Krisna Bayu OLY mengusulkan agar dalam menentukan pilihan kandifat itu perlu dimonitor sejarah para kandidat dalam hubungan dengan Indonesia. Ini agar kandidat yang dijagokan memiliki perhatian pada Indonesia. Jika kandidat itu pro Indonesia tentu nantinya akan baik untuk IOA.
“Sebaiknya penentuan kandidat yang akan dipilih Idonesia dilakukan melalui Rakornas atau rapat pleno. Setelah itu hasil pilihan ini sebaiknya didiskusikan dengan NOC. Bagaimana pun NOC itu mitra IOA yang tidak bisa dipisahkan,” ujar Krisna Bayu OLY yang Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Sambo Indonesia (Persambi) yang baru sukses menggelar Kejuaraan Dunia Sambo Remaja dan Junior di Bogor, Jawa Barat.
Sedangkan Anton Suseno OLY mengusulkan penentuan kandidat Indonesia perlu dilakukan melalui Rakornas atau rapat pleno. Sedangkan pemberitahuan kepada NOC Indonesia dapat dipakai untuk mendiskusikan IOA jadi anggota biasa. “Ini perlu diperjuangkan agar IOA menjadi anggota biasa. Ditingkat internasional WOA juga mendapat dukungan penuh dari IOC,” ujar Anton. ***
| Kategori | : | Non Olympic, DKI Jakarta |













