Sulit Naik Pangkat Menjelang Pensiun, Curhat ASN Deli Serdang Berbuah Perhatian Presiden
![]() |
MEDAN – Suara seorang bidan di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, mengguncang dunia maya setelah videonya yang menumpahkan keluh kesah soal sulitnya naik pangkat viral di media sosial. Dalam video berdurasi dua menit itu, ASN bernama Farida mencurahkan isi hatinya menjelang masa pensiun yang tinggal setahun lagi.
“Saya merasa dizalimi, sudah mau pensiun tapi tetap golongan dua. Tolong Pak Presiden Prabowo Subianto bantu kami,” ucap Farida dengan suara bergetar.
Keluhannya yang sederhana tapi penuh emosi itu rupanya menarik perhatian langsung Presiden Prabowo Subianto. Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, mengungkapkan bahwa pihak Istana telah memintanya menindaklanjuti persoalan tersebut bersama Bupati Deli Serdang, Asri Ludin.
“Video yang dibuat Ibu Farida ditanggapi langsung oleh Bapak Presiden. Kami dihubungi dan diminta segera menyelesaikan persoalan ini. Siang ini sudah kami mediasi bersama Bupati,” kata Bobby di Medan, Minggu (2/11).
Dalam hasil mediasi itu, disepakati bahwa Farida akan diberikan kesempatan mengikuti remedial ujian dinas kenaikan pangkat. “Satu minggu lagi akan dilakukan remedial bagi Ibu Farida dan peserta lain yang belum lulus. Ujian ini sepenuhnya dilaksanakan oleh BKN, bukan oleh daerah,” jelas Bobby.
Terkait tudingan adanya pungutan liar (pungli) yang disinggung Farida dalam video, Bobby meluruskan bahwa hal itu tidak berkaitan dengan proses ujian pangkat. “Pungli yang dimaksud bukan untuk ujian dinas, tapi pengalaman pribadi Ibu Farida waktu mengurus izin kuliah pada tahun 2019,” ujarnya.
Farida yang hadir dalam pertemuan tersebut pun mengklarifikasi pernyataannya. “Saya ingin menjelaskan, untuk ujian dinas tidak ada pungli. Pungli yang saya alami itu dulu waktu urus izin kuliah tahun 2019. Oknum yang terlibat sudah saya sampaikan ke Pak Gubernur dan Pak Bupati,” ungkapnya.
ASN golongan II itu pun mengaku lega setelah masalahnya mendapat perhatian Presiden dan pemerintah daerah. “Saya berterima kasih kepada Pak Presiden, Pak Gubernur, dan Pak Bupati yang sudah peduli. Saya juga berharap, ke depan tidak ada lagi ASN yang mengalami hal seperti saya,” ujarnya.
Farida yang akan memasuki masa pensiun pada Maret 2026 berharap peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi birokrasi daerah agar lebih terbuka dan manusiawi. “Kami hanya ingin sistem yang adil. Kalau kami kurang, beri kesempatan belajar. Jangan sampai ASN merasa tersisih di penghujung karier,” katanya.
Bobby menegaskan, kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem merit dan transparansi dalam pembinaan ASN. “Kita ingin memastikan seluruh ASN di Sumut memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang tanpa hambatan birokrasi,” tegasnya.
Kasus Farida pun menjadi pengingat bahwa di balik seragam ASN, ada banyak perjuangan yang kerap tak terdengar — dan satu suara jujur bisa membuka jalan bagi perubahan. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | kumparan.com |
| Kategori | : | Voli, DKI Jakarta, Sumatera Utara |













