Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
23 jam yang lalu
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
2
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
24 jam yang lalu
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
3
Kalahkan Jeon Hyeok Jin, Ginting Melaju ke Babak 16 Besar
Sepakbola
21 jam yang lalu
Kalahkan Jeon Hyeok Jin, Ginting Melaju ke Babak 16 Besar
4
Ardhi Tjahjoko Optimistis Persija Bisa Tampil Maksimal Hadapi Persebaya
DKI Jakarta
20 jam yang lalu
Ardhi Tjahjoko Optimistis Persija Bisa Tampil Maksimal Hadapi Persebaya
5
Kasus Suap HGB Summarecon Bogor, KPK Dalami Aliran Dana ke Orang Kepercayaan Nusron Wahid
Hukum
23 jam yang lalu
Kasus Suap HGB Summarecon Bogor, KPK Dalami Aliran Dana ke Orang Kepercayaan Nusron Wahid
6
12 Anggota PMR DKI Berangkat ke Jepang Ikuti Program Pertukaran Pemuda
Metropolitan
23 jam yang lalu
12 Anggota PMR DKI Berangkat ke Jepang Ikuti Program Pertukaran Pemuda
Home  /  Berita  /  PON

Di Balik Kemudi Mikrotrans: Kerja Panjang, Gaji Pas-pasan, dan Potongan Tiada Henti

Di Balik Kemudi Mikrotrans: Kerja Panjang, Gaji Pas-pasan, dan Potongan Tiada Henti
Kisaran Besaran Gaji Sopir Jaklingko (photo: aniesbaswedan.com)
Selasa, 04 November 2025 13:34 WIB

JAKARTA – Di balik laju armada biru telur asin yang wara-wiri di gang-gang sempit Ibu Kota, ada kisah perjuangan sopir Mikrotrans Jaklingko yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan gaji pas-pasan.


Mereka adalah tulang punggung sistem transportasi terintegrasi JakLingko yang dicanangkan untuk memudahkan mobilitas warga. Namun, di balik kemudi, cerita kesejahteraan mereka jauh dari ideal.

“Target harian tinggi, tapi pendapatan sering tak sampai UMR,” ujar salah seorang sopir di Terminal Rawamangun, Senin (4/11/2025). Ia menuturkan, dalam sehari dirinya harus menempuh jarak hingga 200 kilometer untuk memenuhi target operasi.

Rata-rata, sopir Mikrotrans menerima penghasilan antara Rp145.000 hingga Rp150.000 per hari. Dengan jam kerja panjang dan hanya dua hari libur dalam sebulan, gaji mereka per bulan hanya berkisar Rp4,1 juta—masih jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR) DKI Jakarta tahun 2025 sebesar Rp5.396.761.

Ironisnya, penghasilan itu belum bersih. Dari uang tersebut masih dipotong biaya seragam kerja dan tunjangan hari raya (THR). Setiap bulan, sekitar Rp12.900 dipotong untuk THR, sementara seragam wajib yang berbeda tiap hari kerja—dari kemeja biru telur asin hingga kaus merah Minggu—dikenakan biaya Rp150.000 per potong.

Tak hanya itu, setiap tiga tahun sekali, sopir juga diwajibkan memperpanjang sertifikat pelatihan (diklat) dengan biaya Rp300.000 yang kembali diambil dari THR mereka. “Kami tidak punya pilihan. Kalau tak ikut aturan, bisa saja tak diperpanjang kontrak,” jelasnya pelan.

Meski begitu, banyak sopir tetap memilih bertahan karena sulitnya mencari pekerjaan dengan penghasilan tetap di Jakarta. “Yang penting bisa makan dan anak bisa sekolah,” ungkap sopir lainnya yang telah enam tahun mengemudi Mikrotrans.

Bagi mereka, mengemudi bukan sekadar profesi, melainkan bentuk tanggung jawab. Mereka tetap menyalakan mesin setiap pagi, mengantar warga dari ujung gang menuju halte Transjakarta, meski penghidupan sendiri masih jauh dari sejahtera. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:PON, Badminton, DKI Jakarta
wwwwww