Pedagang Bakso di Jalan Bangka Terpuruk Gara-Gara Proyek Galian, Gerobak Debu dan Pelanggan Hilang
![]() |
| Gerobak bakso milik Suyatno (48) kini sepi pelanggan sejak adanya galian di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. |
JAKARTA – Terik matahari dan bisingnya proyek galian kabel serat optik di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan, sejak sepekan terakhir mengubah ritme hidup Suyatno, pedagang bakso kaki lima yang telah lima tahun menggelar gerobaknya di depan sebuah minimarket. Gerobaknya kini hampir tenggelam di balik spanduk proyek, berlapis debu, dan jauh dari keramaian pembeli.
Di balik kaca gerobak yang kusam, tulisan Bakso Malang masih terbaca. Kuah panas menguap dari panci kecil, tapi aromanya kalah oleh bau tanah galian yang menusuk.
“Sudah hampir seminggu proyek ini jalan, yang beli turun jauh. Jalan susah, motor enggak bisa berhenti, orang juga malas dekat-dekat karena debu,” ucap Suyatno, Minggu (16/11/2025).
Lubang galian sedalam satu meter membentang tak jauh dari tempat ia mangkal. Beberapa pekerja terlihat beristirahat di pinggiran lubang itu, namun jarang membeli dagangannya.
“Kadang mereka beli, tapi tidak sering. Mereka juga hidupnya irit. Saya maklum,” katanya.
Biasanya pukul 11.00, Suyatno sudah sibuk melayani pembeli: pegawai kantoran, warga sekitar, hingga anak sekolah. Kini jalanan sepi. Pengendara memilih jalur lain, sementara yang melintas enggan berhenti karena khawatir memicu kemacetan.
“Kalau pindah tempat, saya takut kehilangan pelanggan. Tapi di sini pun orang sudah enggak nyaman karena berisik,” keluhnya.
Pengalaman sebagai pedagang kaki lima membuatnya terbiasa menghadapi risiko: terjebak hujan, dikejar Satpol PP, hingga hampir tertabrak kendaraan. Namun gangguan proyek kali ini membuatnya benar-benar terpukul. Di seberang jalan, spanduk permintaan maaf dari kontraktor terbentang lebar.
“Maaf itu cuma tulisan. Enggak ada tawaran relokasi, enggak ada kompensasi, enggak tahu kapan proyek selesai,” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap datang setiap hari. Menyeka debu, menyalakan tungku, dan berharap ada pelanggan yang kembali.
“Saya cuma berharap orang tetap lewat sini,” tuturnya, tersenyum kecil meski samar.
Di balik pagar proyek, Hendro (51), salah satu pekerja, mengakui situasi sulit ini.
“Saya tahu ini nyusahin banyak orang, termasuk pedagang kayak Pak Suyatno. Tapi saya cuma nurut sama perintah kerja,” ujarnya sambil memegang linggis yang kotor debu.
Ia menjelaskan bahwa lokasi galian sudah ditentukan lewat peta teknis, sehingga tidak ada ruang bagi pekerja untuk menggeser jalur galian walau sedikit.
“Kami ini cuma ngerjain apa yang sudah jadi arahan. Mau geser sedikit pun enggak bisa,” katanya.
Di satu ruas jalan yang sama, dua manusia bertahan dalam tekanan yang berbeda. Satu menunggu pembeli yang tak kunjung datang, satu lagi bekerja demi target proyek. Keduanya sama-sama berjuang, saling melihat, tetapi tak mampu mengubah keadaan. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Badminton, DKI Jakarta |













