Pelajar dan Pecinta Lingkungan Peringati Ciliwung Day 2025 di Jaktim
![]() |
| Peringatan Ciliwung Day 2025 di Jakarta Timur. (Ist) |
Sabtu, 22 November 2025 20:12 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Ratusan pelajar, komunitas pecinta lingkungan, dan warga memperingati Ciliwung Day 2025 yang digelar Siswa Pencinta Alam (Sispala) DKI Jakarta di Komunitas Belajar Ciliwung (KBC) Jalan Jembatan I, Kelurahan Balekambang Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.
Lebih dari 120 peserta dari 25 sekolah, enam Mapala, serta sejumlah komunitas Ciliwung ambil bagian dalam kegiatan bertema "Sungai Sehat, Jakarta Kuat, Kehidupan Terawat" ini.
Pembukaan dilakukan oleh Kabag Kesra Pemkot Jakarta Timur, Yan Murdian, mewakili Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin.
Membacakan sambutan Munjirin, Yan Murdian menegaskan pentingnya Ciliwung sebagai bagian dari identitas dan kehidupan warga Jakarta.
"Menjaga Ciliwung berarti menjaga masa depan lingkungan dan generasi kita," kata Yan, Sabtu (22/11/2025).
Yan mengatakan, Pemkot terus memperkuat program pengendalian banjir, penataan bantaran sungai, pengelolaan sampah, hingga penyediaan ruang terbuka hijau. Namun pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.
"Komitmen masyarakat adalah kunci," tegasnya.
Ketua Panitia acara, Rudi Sofyan menjelaskan, kegiatan ini diadakan agar isu sungai lebih dekat dengan generasi muda melalui seni Palang Pintu, edukasi pengolahan sampah, penanaman pohon, dan penebaran bibit ikan.
"Anak-anak sekarang terlalu terpaku pada HP Lewat kegiatan ini, kita kenalkan kondisi sungai dan ajak mereka peduli," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Alumni Sispala DKI Jakarta, Adjie Rimbawan menekankan kegiatan tahunan ini bertujuan membangun kepedulian pelajar terhadap Ciliwung.
"Kalau tidak dikenali, tidak dipahami, dan tidak dirawat, sungai ini bisa jadi musibah. Tahun ini Sispala membawa tagline Sungai Sehat, Jakarta Tua Kehidupan Terawat," bebernya.
Melalui aksi kolaboratif dan edukasi, Adjie menginginkan agar Ciliwung Day 2025 bukan hanya seremonial. Sebab, merawat sungai bukan sekadar program, tetapi budaya yang harus diwariskan. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Lingkungan, DKI Jakarta |













