Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
11 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
2
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
14 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
3
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
8 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
4
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
19 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
5
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
9 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
6
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
7 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Home  /  Berita  /  Automotif

‎DPR Minta Kemenkes Gerak Cepat Antisipasi Wabah di Wilayah Bencana Banjir Sumatera

‎DPR Minta Kemenkes Gerak Cepat Antisipasi Wabah di Wilayah Bencana Banjir Sumatera
Posko kesehatan di Tapanuli Selatan. (Ist)
Selasa, 02 Desember 2025 12:09 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA - Komisi IX DPR mendesak Kementerian Kesehatan segera mengirim tim medis untuk menangani potensi lonjakan penyakit pascabanjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Lonjakan pengungsi dan kondisi lingkungan yang rusak dinilai meningkatkan risiko penyakit menular.

"Kemenkes segera membentuk tim medis turun ke lapangan untuk mengantisipasi penyakit pasca banjir, seperti ISPA, diare dan demam berdarah," ujar Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, Selasa (2/12/2025).

‎
‎Yahya menekankan perlunya posko kesehatan dan layanan trauma healing di seluruh titik pengungsian. Menurutnya, penanganan medis harus bergerak cepat sebelum kondisi warga memburuk.
‎
‎"Buat posko-posko kesehatan, turunkan dokter dan tenaga kesehatan untuk mengecek kesehatan masyarakat yang tertimpa musibah banjir. Sediakan obat-obatan dan alat kesehatan serta logistik kesehatan lainnya yang diperlukan," katanya.
‎
‎Ia juga mengingatkan pentingnya memantau kondisi psikologis warga. 
‎
‎"Cek kesehatan warga di pengungsian, termasuk kesehatan mentalnya. Mungkin ada yang trauma dengan banjir dan tanah longsor. Apalagi kalau ada keluarga yang meninggal dunia atau yang masih hilang," ucapnya.
‎
‎Koordinasi lintas lembaga, ujar Yahya, harus dipercepat agar layanan kesehatan tidak terhambat. 
‎
‎"Yang perlu diantisipasi sediakan rumah sakit untuk pengobatan warga yang sakit. Jangan sampai sakitnya semakin parah," tambahnya.
‎
‎Sebelumnya, Kemenkes melaporkan penyakit yang banyak dialami pengungsi antara lain luka-luka, ISPA, diare, demam, hingga myalgia. Data dikumpulkan per 1 Desember 2025, namun masih bisa berubah karena akses ke sejumlah wilayah bencana belum sepenuhnya terbuka.
‎
‎Aji Mulawarman dari Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes mengatakan penanganan kesehatan di pengungsian menjadi prioritas, terutama bagi kelompok rentan. 
‎
‎"Fokus utama di pengungsian untuk antisipasi penyakit pasca bencana. Juga penanganan bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, penyandang disabilitas, dan pasien cuci darah," ujarnya.
‎
‎Hingga kini proses evakuasi material dan korban masih berlangsung. Jumlah korban meninggal tercatat mencapai 631 orang, sementara pengungsi telah menembus 1 juta jiwa. ***

Editor:Senopati Ukoro
Sumber:Detik.com
Kategori:Automotif
wwwwww