Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
22 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
2
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
21 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
3
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
23 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
4
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Metropolitan
21 jam yang lalu
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
5
Kecerdikan Igor Tolic Baca Arah Permainan Melbourne Victory
Sepakbola
23 jam yang lalu
Kecerdikan Igor Tolic Baca Arah Permainan Melbourne Victory
6
Timnas Indonesia Gelar Pemusatan Latihan di Bali pada FIFA Matchday November
Sepakbola
21 jam yang lalu
Timnas Indonesia Gelar Pemusatan Latihan di Bali pada FIFA Matchday November
Home  /  Berita  /  DKI Jakarta

Debat Panas di Komisi I: Publikasi Bencana Dinilai lemah, Deng Ical Angkat Suara

Debat Panas di Komisi I: Publikasi Bencana Dinilai lemah, Deng Ical Angkat Suara
Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal MI yang akrab dipanggil Deng Ical. (Ist)
Selasa, 09 Desember 2025 16:42 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Desakan agar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) lebih aktif memviralkan bantuan pemerintah mencuat dalam rapat kerja bersama Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Beberapa anggota dewan menilai informasi mengenai penanganan bencana oleh negara kerap kalah gaung dibanding aksi gotong royong masyarakat yang lebih cepat viral di media sosial.

Di tengah perdebatan tersebut, Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal MI, yang akrab disapa Deng Ical, menyampaikan pandangan berbeda. Ia menegaskan bahwa membandingkan bantuan pemerintah dengan solidaritas masyarakat adalah narasi keliru yang tidak perlu dipertentangkan.

“Saya kira justru disitulah kekuatan masyarakat, itulah supremasi rakyat. Dan ini wajar karena memang kita ini abdi rakyat, bukan sebaliknya,” ujar Deng Ical di Jakarta, Selasa, 9 Desember 2025.

Mantan Wakil Wali Kota Makassar itu menekankan bahwa ketangguhan masyarakat untuk saling membantu tanpa fasilitas negara merupakan modal sosial yang harus disyukuri, bukan dipandang sebagai kompetisi dengan pemerintah.

“Rakyat tanpa dibekali fasilitas apa pun oleh negara ternyata mampu memberikan bantuan. Itu seharusnya kita syukuri bahwa sikap gotong royong, saling membantu antar sesama masih ada dan terbukti kokoh di antara anak bangsa,” lanjutnya.

Deng Ical menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban konstitusional untuk hadir dalam kondisi apa pun, terutama ketika terjadi bencana seperti banjir bandang, tanpa menunggu pencitraan atau viralisasi di media sosial.

“Pemerintah tanpa diviralkan pun ya wajib bantu masyarakat, siapapun itu, apalagi yang terdampak bencana banjir bandang,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi antara negara dan rakyat, bukan saling mempertanyakan siapa yang paling terlihat dalam memberikan bantuan.
“Gotong royong adalah identitas bangsa yang tidak boleh hilang,” pungkasnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR RI, Endipat Wijaya mendesak Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk lebih proaktif dan masif dalam menyebarkan informasi mengenai kinerja pemerintah dalam penanganan bencana, khususnya banjir dan longsor di Sumatra.

Desakan keras ini disampaikan Endipat saat rapat kerja bersama Komdigi di Gedung DPR, Jakarta, Senin (8/12/2025).

Menurut Endipat, minimnya informasi yang tersebar membuat kerja keras pemerintah, termasuk bantuan triliunan rupiah, seolah-olah tenggelam oleh viralnya donasi yang digalang pihak lain. Kondisi ini bahkan cenderung memunculkan anggapan bahwa pemerintah tidak bergerak.

Deng Ical mendukung sepenuhnya masukan Endipat dalam konteks mendorong pemerintah mengoptimalkan komunikasi publik, terutama untuk menciptakan optimisme dan solidaritas Rakyat terhadap korban bencana.

"Apalagi warga Indonesia menjadi warga negara paling dermawan sedunia selama lima tahun berturut-turut, sesuai hasil indeks kedermawanan dunia," pungkasnya.

Deng Ical mendukung sepenuhnya masukan Endipat dalam konteks mendorong pemerintah mengoptimalkan komunikasi publik, terutama untuk menciptakan optimisme dan solidaritas Rakyat terhadap korban bencana.

"Apalagi warga Indonesia menjadi warga negara paling dermawan sedunia selama lima tahun berturut-turut, sesuai hasil indeks kedermawanan dunia," pungkasnya. ***

wwwwww