Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
23 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
19 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
3
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
17 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
4
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
16 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
5
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
21 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
6
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Umum
23 jam yang lalu
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Home  /  Berita  /  Basket

Harga Minyak Tergelincir, Pasar Global Terjebak Menanti Sinyal Damai dan Kebijakan The Fed

Harga Minyak Tergelincir, Pasar Global Terjebak Menanti Sinyal Damai dan Kebijakan The Fed
Ilustrasi kilang minyak. Harga minyak mentah Brent berjangka turun 7 sen atau 0,1 persen menjadi 62,42 dolar AS per barel pada pukul 07.17 GMT.
Selasa, 09 Desember 2025 15:24 WIB

JAKARTA – Harga minyak kembali bergerak turun pada Selasa (9/12/2025) di tengah rangkaian sentimen global yang saling tarik-menarik. Pasar energi berada pada fase kewaspadaan, menunggu kepastian diplomasi Ukraina, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta prospek pasokan dunia yang dinilai melimpah.

Minyak mentah Brent tercatat melemah 7 sen menjadi 62,42 dolar AS per barel pada pukul 07.17 GMT. West Texas Intermediate (WTI) turun 13 sen dan berada di 58,75 dolar AS per barel. Penurunan ini melanjutkan koreksi sehari sebelumnya, menyusul pemulihan produksi Irak di ladang West Qurna 2 milik Lukoil—salah satu proyek minyak terbesar dunia. 

Di sektor geopolitik, babak baru rencana perdamaian Ukraina ikut menentukan arah pasar. Dokumen perdamaian yang telah direvisi siap dibagikan kepada AS setelah Presiden Volodymyr Zelenskiy menggelar pertemuan dengan pemimpin Prancis, Inggris, dan Jerman di London.

“Harga minyak berada dalam kisaran perdagangan yang ketat hingga kita mendapatkan gambaran lebih baik tentang arah perundingan damai ini,” ujar Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer.

Ia menambahkan, jika negosiasi kembali buntu, harga berpotensi bergerak naik karena ketidakpastian suplai. Sebaliknya, tanda-tanda pemulihan pasokan minyak Rusia dapat menekan harga.

Informasi dari sumber yang mengikuti pembahasan menyebutkan negara-negara G7 dan Uni Eropa tengah menimbang opsi larangan penuh layanan maritim sebagai pengganti batas harga minyak Rusia, bagian dari upaya menekan pendapatan energi Moskow. 

Pelaku pasar juga mencermati laporan bulanan Badan Energi Internasional (IEA) yang akan terbit 11 Desember. Laporan sebelumnya memperkirakan surplus besar minyak pada 2026, sehingga banyak analis menilai rilis berikutnya berpotensi menjadi pemicu pergerakan pasar. 

Kelvin Wong, Analis Pasar Senior OANDA, menilai WTI bisa kembali menguji level support 56,80–57,50 dolar AS jika IEA mempertahankan pandangan surplus. 

Di sisi lain, keputusan suku bunga Federal Reserve pada Rabu ikut menjadi perhatian utama. Peluang penurunan suku bunga seperempat poin mencapai 87 persen, yang biasanya memberi dukungan pada permintaan minyak. Namun, dampaknya dinilai belum tentu signifikan jika ekspektasi pasokan global terus menguat.

“Keputusan Fed bisa memberi dorongan jangka pendek bagi minyak, namun struktur harga tetap dibayangi proyeksi kelebihan pasokan pada 2026,” ujar Analis Pasar Senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ekonomi, Basket
wwwwww