Banjir Kembali Rendam Jalan DI Panjaitan Cawang, FAKTA Indonesia Soroti Kegagalan Adaptasi Iklim
![]() |
| Banjir di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur. (Ist) |
Jum'at, 23 Januari 2026 10:30 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Banjir kembali melanda kawasan Jalan DI Panjaitan, Cawang, Jakarta Timur, pada Kamis (22/1/2026) pagi. Ketinggian air mencapai sekitar 40 hingga 50 sentimeter dan menyebabkan gangguan serius terhadap arus lalu lintas di kawasan tersebut.
Wilayah Jalan DI Panjaitan dikenal sebagai salah satu titik rawan banjir di Jakarta. Pada musim hujan kali ini, kawasan tersebut tercatat sudah tiga kali terendam banjir, yang berulang kali memicu kemacetan parah, terutama pada jam sibuk pagi hari saat masyarakat berangkat bekerja.
Akibat banjir, kendaraan pribadi maupun transportasi umum tidak dapat melintas. Arus lalu lintas di sekitar Cawang dan Jatinegara dilaporkan lumpuh total, membuat banyak pengguna jalan terjebak kemacetan.
Wakil Ketua FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan menilai, kondisi tersebut mencerminkan kegagalan kota dalam menyesuaikan pelayanan publik terhadap dampak perubahan iklim. Ia menyoroti ketiadaan sistem peringatan dini serta lambannya respons darurat ketika banjir terjadi.
"Situasi di jalan sudah kacau, masyarakat terjebak banjir dan kemacetan, namun tidak ada sistem peringatan dini yang bisa membantu warga lebih awal. Respons darurat juga tidak segera hadir," ujar Azas dalam keterangan tertulis, Jumat (23/1/2026).
Menurutnya, banjir disebabkan oleh tingginya intensitas hujan yang tidak diimbangi dengan fungsi drainase yang optimal. Banyak gorong-gorong dan saluran air di kawasan tersebut dilaporkan rusak dan tersumbat sampah akibat kurangnya perawatan rutin.
Selain itu, berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan Cawang dan Jatinegara turut memperparah kondisi. Alih fungsi lahan untuk pembangunan jalan, gedung, dan infrastruktur lainnya membuat air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah secara optimal.
Azas menegaskan, perubahan iklim telah meningkatkan intensitas hujan secara signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, kota dinilai perlu segera melakukan adaptasi agar dampaknya tidak terus merugikan masyarakat.
Ia mendorong, pemerintah daerah untuk memperbaiki tata kelola lingkungan, menjaga dan merawat sistem drainase, memperluas ruang terbuka hijau, serta membangun sistem mitigasi bencana yang mencakup peringatan dini dan respons darurat yang cepat.
"Adaptasi terhadap perubahan iklim harus menjadi kesadaran bersama, agar masyarakat tidak terus menjadi korban dari persoalan yang berulang," pungkasnya. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Badminton, DKI Jakarta |













