Jakarta Timur Banjir di Hari Raya, Pemerhati Desak Perbaikan Total Sistem Drainase
![]() |
| Ilustrasi banjir Jakarta. (Ist) |
Selasa, 24 Maret 2026 14:29 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Jakarta Timur saat libur Lebaran 2026 menuai sorotan dari Pemerhati Jakarta yang juga Wakil Ketua Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia, Azas Tigor Nainggolan. Ia menilai, banjir yang terjadi menunjukkan adanya persoalan serius pada sistem drainase dan minimnya peringatan dini kepada masyarakat.
Tigor mengungkapkan, banjir terjadi di kawasan Cibubur dan sekitarnya, termasuk Pondok Rangon, yang selama ini relatif jarang terdampak banjir. Peristiwa tersebut bahkan menyebabkan kemacetan di ruas Tol Jagorawi KM 12 pada hari pertama Lebaran akibat genangan air di jalur menuju Jakarta.
Menurutnya, banjir diduga dipicu oleh kerusakan tanggul di aliran Sungai Cipinang yang menyebabkan air meluap ke permukiman warga. Kondisi tersebut dinilai tidak wajar mengingat curah hujan saat itu tidak berlangsung lama, namun genangan air dapat bertahan hingga dua hari.
"Cuma hujan sekitar empat jam saja, tetapi banjirnya sangat besar. Ini menunjukkan ada masalah serius pada sistem drainase di Jakarta Timur yang tidak dirawat dan tidak diperbaiki dengan baik," ujar Tigor dalam keterangan tertulis, Minggu (22/3/2026).
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sedikitnya 46 rukun tetangga (RT) di Jakarta terdampak banjir saat Lebaran, dengan seluruh lokasi berada di wilayah Jakarta Timur.
Tigor juga mempertanyakan kesiapan pemerintah daerah dalam memberikan informasi peringatan dini kepada masyarakat. Ia menyebut, sebelumnya telah ada prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi hujan sedang hingga lebat pada periode Lebaran, namun tidak diikuti dengan langkah mitigasi yang optimal.
"Seharusnya ada sistem peringatan dini kepada warga. Jika informasi cuaca sudah ada, maka pemerintah daerah perlu segera menyampaikan kepada masyarakat agar dapat melakukan antisipasi," tegasnya.
Tigor menilai, banjir yang terjadi di wilayah yang sebelumnya tidak rawan banjir menjadi peringatan bahwa kerusakan sistem drainase di Jakarta semakin meluas. Ia menyebut selama ini permasalahan banjir sering terjadi di Jakarta Barat dan Selatan, sementara Jakarta Utara kerap terdampak banjir rob.
Kini, kata dia, wilayah Jakarta Timur mulai menunjukkan gejala serupa akibat kurangnya perawatan infrastruktur pengendalian banjir, seperti pengerukan sungai dan pemeliharaan saluran air.
"Melihat kondisi ini, bisa jadi sistem drainase Jakarta memang sudah harus diperbaiki secara menyeluruh. Kerusakan kecil yang dibiarkan lama akan menjadi masalah besar di kemudian hari," kata Tigor.
Ia juga mendorong Gubernur DKI Jakarta untuk mengoptimalkan peran wali kota dalam memantau kondisi drainase di wilayah masing-masing serta memastikan adanya respons cepat saat terjadi potensi banjir.
Menurut Tigor, wali kota sebagai pimpinan wilayah memiliki pengetahuan paling detail mengenai kondisi lapangan, sehingga harus menjadi pihak yang aktif memberikan informasi kepada masyarakat serta memimpin penanganan darurat saat banjir terjadi.
"Jika terjadi banjir, yang harus bergerak cepat memberikan informasi dan bantuan darurat adalah wali kota di wilayah tersebut, karena merekalah yang mengetahui kondisi faktual di lapangan," pungkasnya. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Badminton, DKI Jakarta |













