Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
15 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
15 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
17 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
17 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
17 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
8 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Home  /  Berita  /  Badminton

BMKG Prediksi Kemarau Ekstrem 2026, KATAR Sebut Pasokan Air Jakarta Tetap Aman

BMKG Prediksi Kemarau Ekstrem 2026, KATAR Sebut Pasokan Air Jakarta Tetap Aman
Instalasi Pengolahan Air (IPA) PAM Jaya. (Ist).
Rabu, 01 April 2026 19:17 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Prediksi potensi kemarau ekstrem dan berkepanjangan pada 2026 yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat terkait ketersediaan air bersih. Namun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Perumda PAM Jaya dinilai telah memiliki kesiapan yang memadai untuk menjaga kesinambungan pasokan air bagi warga ibu kota.

Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto (SGY) mengatakan, informasi resmi BMKG pada 10 Maret 2026 menyebutkan fenomena La Niña lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026. Kondisi tersebut membuat sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau sejak April 2026 dengan potensi berlangsung lebih panjang dari biasanya.

‎
‎Menurut SGY, kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kemarau ekstrem merupakan hal yang wajar, terutama terkait ketersediaan air bersih. Namun, ia menilai, Pemprov DKI Jakarta bersama PAM Jaya telah memperhitungkan berbagai aspek strategis untuk memastikan produksi dan distribusi air tetap berjalan optimal.
‎
‎"Pemprov DKI Jakarta melalui PAM Jaya telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan terhadap potensi kekurangan air bersih, sekalipun terjadi kemarau panjang," ujar SGY dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).
‎
‎Ia menjelaskan, persoalan utama dalam menghadapi musim kemarau adalah ketersediaan sumber air baku. Saat ini, sekitar 92 persen atau setara 19.400 liter per detik pasokan air baku PAM Jaya berasal dari luar Jakarta, yakni Waduk Jatiluhur, melalui kerja sama dengan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
‎
‎Sementara itu, sekitar 8 persen atau 2.750 liter per detik sisanya berasal dari berbagai sumber air permukaan di Jakarta, seperti Sungai Krukut, Cengkareng Drain, Kanal Banjir Barat, Sungai Pesanggrahan, Kali Ciliwung, Sodetan Sungai Cisadane, Kali Mookervart, hingga pemanfaatan air laut sebagai sumber alternatif.
‎
‎SGY menilai, ketergantungan terhadap Waduk Jatiluhur memang cukup besar, namun kecil kemungkinan waduk tersebut mengalami kekeringan total, meskipun terjadi kemarau ekstrem. Yang lebih mungkin terjadi adalah penurunan muka air akibat minimnya curah hujan.
‎
‎"Dalam kondisi tertentu, pemerintah biasanya melakukan teknik modifikasi cuaca atau hujan buatan untuk menjaga stabilitas volume air waduk. Langkah ini terbukti efektif dalam menjaga pasokan air baku," katanya.
‎
‎Selain mengandalkan sumber air baku utama, Pemprov DKI Jakarta juga terus memperkuat infrastruktur pengolahan air bersih melalui pembangunan instalasi pengolahan air (IPA) dan sistem penyediaan air minum (SPAM) di berbagai wilayah, seperti Buaran, Pejompongan, Pesanggrahan, Cilandak, Ciliwung, hingga Taman Kota. Jumlah fasilitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 18 unit hingga akhir 2029.
‎
‎Di sisi lain, PAM Jaya juga tengah menjajaki penambahan sumber air baku dari Bendungan Karian untuk memperkuat ketahanan pasokan air jangka panjang. Saat ini, total kapasitas produksi air bersih yang dimiliki PAM Jaya telah mencapai sekitar 22.150 hingga 22.265 liter per detik.
‎
‎SGY menuturkan, berbagai inovasi teknologi juga mulai dikembangkan sebagai alternatif sumber air baku, termasuk teknologi desalinasi untuk mengolah air laut menjadi air tawar, pengolahan air limbah dengan sistem filtrasi modern, hingga teknologi pemanenan air dari udara atau atmospheric water harvesting.
‎
‎Ia menilai, langkah-langkah tersebut sejalan dengan target Pemprov DKI Jakarta dan PAM Jaya dalam mencapai cakupan layanan air minum 100 persen bagi seluruh warga Jakarta pada 2029. Untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan kapasitas pasokan sekitar 32.950 liter per detik atau setara 2,83 juta meter kubik per hari.
‎
‎Sejak pengambilalihan penuh pengelolaan air bersih oleh PAM Jaya pada Februari 2023, capaian layanan air bersih di Jakarta terus menunjukkan peningkatan signifikan. Cakupan layanan yang sebelumnya sekitar 59,53 persen kini telah meningkat menjadi lebih dari 80,17 persen. Jumlah sambungan rumah juga bertambah dari sekitar 948 ribu menjadi lebih dari 1,18 juta sambungan pelanggan.
‎
‎Selain itu, panjang jaringan perpipaan juga meningkat dari sekitar 12.195 kilometer menjadi lebih dari 12.838 kilometer pada Februari 2026. Sementara tingkat kehilangan air atau non-revenue water yang sebelumnya berada di angka 46,2 persen ditargetkan turun menjadi 30 persen pada 2029.
‎
‎Menurut SGY, berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa sistem penyediaan air bersih di Jakarta semakin kuat dan adaptif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, termasuk potensi kemarau ekstrem pada 2026.
‎
‎"Dengan penguatan infrastruktur, pengelolaan sumber air baku yang adaptif, serta pemanfaatan teknologi yang berkelanjutan, Pemprov DKI Jakarta dan PAM Jaya berada di jalur yang tepat untuk memastikan pelayanan air bersih tetap terjaga bagi masyarakat, bahkan dalam kondisi iklim yang tidak menentu," pungkas SGY. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Badminton, DKI Jakarta
wwwwww