Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
19 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
23 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
18 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
20 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
16 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
6
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
Non Olympic
18 jam yang lalu
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
Home  /  Berita  /  Badminton

Pengamat Perkotaan: Jakarta Perlu Segera Terapkan Waste to Energy Seperti Swedia

Pengamat Perkotaan: Jakarta Perlu Segera Terapkan Waste to Energy Seperti Swedia
Pengolahan sampah Waste to Energy. (Ist)
Selasa, 14 April 2026 11:47 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Pengamat perkotaan yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Penyimpangan Aparatur Daerah (LP2AD), Victor Irianto Napitupulu mengusulkan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov)DKI Jakarta perlu segera menerapkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE) guna mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks.

Victor mengatakan, negara seperti Swedia telah membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi solusi lingkungan sekaligus sumber energi dan ekonomi yang berkelanjutan.

 
"Swedia mampu mengolah lebih dari 99 persen sampahnya, bahkan sebagian diolah menjadi energi listrik dan panas untuk kebutuhan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa sampah bukan lagi beban, melainkan sumber daya," kata Victor, Selasa (14/4/2026).
 
Dia menjelaskan, Swedia memiliki lebih dari 30 fasilitas WTE yang terintegrasi dengan sistem pemanas distrik (district heating), sehingga mampu menghasilkan energi sekitar 19,5 TWh per tahun untuk kebutuhan listrik dan pemanas jutaan rumah tangga. 
 
Menurut Victor, keberhasilan tersebut tidak lepas dari investasi besar dan konsisten dalam infrastruktur pengolahan sampah serta dukungan regulasi yang kuat sejak puluhan tahun lalu.
 
"Model ini harus menjadi referensi bagi Jakarta. Investasi memang besar di awal, tetapi manfaat jangka panjangnya jauh lebih signifikan, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi, bukan lagi bicara RDF atau ITF," tegasnya.
 
Ia menilai, penerapan WTE dapat menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang sudah over capacity, sekaligus menekan dampak lingkungan seperti pencemaran tanah, air, dan emisi gas rumah kaca.
 
Selain itu, dari sisi bisnis, pengelolaan sampah berbasis WTE membuka peluang ekonomi dari hulu hingga hilir, mulai dari pengumpulan, pemilahan, pengolahan, hingga produksi energi.
 
"Dalam konsep ekonomi sirkular, sampah memiliki nilai ekonomi. Tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga membuka lapangan kerja, mendorong industri daur ulang, dan meningkatkan efisiensi sistem persampahan," bebernya. 
 
Victor menambahkan, proyek WTE juga memiliki prospek keuntungan yang menjanjikan. Berdasarkan berbagai kajian, investasi di sektor ini dapat mencapai titik impas dalam waktu tujuh hingga delapan tahun dengan potensi keuntungan yang stabil setiap tahun setelahnya. 
 
Namun demikian, ia menekankan pentingnya penguatan regulasi sebagai fondasi utama keberhasilan program tersebut. Salah satunya melalui penerapan kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR), yang mewajibkan produsen bertanggung jawab terhadap limbah kemasan yang dihasilkan.
 
"Dengan EPR, produsen ikut menanggung biaya pengelolaan sampah. Ini bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan," ucapnya.
 
Ia juga mendorong Pemprov DKI Jakarta untuk memperkuat peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di sektor persampahan agar pengelolaan sampah lebih terintegrasi dan profesional.
 
"BUMD persampahan harus menjadi motor penggerak, baik dalam operasional, investasi, maupun kerja sama dengan pihak swasta. Tanpa kelembagaan yang kuat, WTE hanya akan menjadi proyek, bukan solusi jangka panjang," ucapnya.
 
Ia menyarankan, agar Eksekutif dan Legislatif di Jakarta bisa segera melakukan studi banding ke Swedia dengan mengajak pakar persampahan di Jakarta atau Indonesia.
 
"Hasil studi banding itu harus bisa segsra dirumuskan dalam langkah kongkret. Sebab, persoalan sampah di Jakarta sudah mendesak dicarikan solusi," imbuhnya.
 
Victor berharap, dengan penerapan WTE yang didukung regulasi dan kelembagaan yang tepat, Jakarta tidak hanya mampu mengatasi persoalan sampah, tetapi juga menjadikannya sebagai sumber energi dan pendapatan daerah yang berkelanjutan.
 
"Saya berharap pemerintah pusat melalui Danantara bisa menyokong kebutuhan investasi WTE ini. Kemudian, PT PLN juga harus dapat berkolaborasi dengan baik agar listrik yang dihasilkan fasilitas WTE di Jakarta nantinya dapat digunakan, tidak boleh ada ego sektoral. Tinggal mencari business to business agar semua diuntungkan," pungkas Victor. ***

wwwwww