Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
22 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
16 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
20 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
4
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
17 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
21 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
16 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Evaluasi Kebijakan Energi Pengamat Minta Pemerintah Lebih Peka Terhadap Beban Rakyat

Evaluasi Kebijakan Energi Pengamat Minta Pemerintah Lebih Peka Terhadap Beban Rakyat
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
Selasa, 21 April 2026 15:54 WIB

JAKARTA - Kinerja jajaran kementerian saat ini mendapat sorotan tajam karena dinilai kehilangan arah kebijakan yang jelas. Langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia yang menaikkan harga LPG di tengah himpitan beban biaya Bahan Bakar Minyak (BBM) memicu keresahan luas di masyarakat.

Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto mengibaratkan operasional pemerintahan sekarang layaknya mesin yang dibiarkan berjalan tanpa kemudi. Keputusan menaikkan harga kebutuhan pokok dinilai sebagai jalan pintas akibat memburuknya kondisi keuangan negara.

"Kabinet hari ini bisa dikatakan kabinet auto pilot. Karena kondisi keuangan yang tidak kondusif, maka setiap menteri mengambil pilihan paling mudah, yakni menaikkan harga barang yang menjadi kebutuhan masyarakat," ungkap Hari kepada RMOL, Selasa (21/4/2026).

Pungutan pajak yang melambung tinggi dianggap menyerupai praktik era penjajahan yang terus memeras rakyat kecil. Ironisnya, pengorbanan masyarakat ini justru berbanding terbalik dengan gaya hidup para pemangku kebijakan.

"Kita dipaksa untuk menghemat, tapi pajak dinaikkan seperti era kolonial. Di sisi lain, para elit justru mempertontonkan kemewahan," urainya.

Lemahnya koordinasi antarlembaga disorot sebagai penyebab setiap instansi terkesan memprioritaskan agendanya sendiri tanpa arah penyelesaian yang terukur. Situasi tersebut diyakini akan semakin mencederai hati publik yang sedang bersusah payah bertahan hidup.

"Citra pemerintahan saat ini makin tidak terjaga karena pembiaran atas agenda kementerian masing-masing. Kasus MBG, KDMP, hingga urusan Satgas PKH berjalan semaunya, selama kepentingan pribadi dan kelompok tidak terganggu," paparnya.

Merespons kondisi yang dinilai serampangan ini, perombakan susunan menteri atau reshuffle khususnya di pos energi didesak untuk segera dilakukan.

"Reshuffle bisa menjadi obat sementara bagi pemerintahan saat ini," tambahnya.

Meski demikian, pergantian nama pejabat dinilai akan percuma jika tidak diikuti dengan orientasi kebijakan yang berpihak pada rakyat miskin. Gelombang protes dari kelas menengah diprediksi akan terus membesar jika situasi perekonomian tak kunjung stabil.

"Jika situasi terus tidak menentu, gerakan sipil akan menguat, terutama dari kelas menengah yang tertekan oleh dampak situasi global hingga nasional. Biarkan gajah-gajah bertarung, tapi jangan sampai semut terinjak-injak," pungkasnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww