Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
24 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
18 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
22 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
4
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
19 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
23 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
18 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Home  /  Berita  /  Umum

IKKB Prihatin Pelajar Asal Pontianak Dirugikan di LCC Empat Pilar MPR RI

IKKB Prihatin Pelajar Asal Pontianak Dirugikan di LCC Empat Pilar MPR RI
Ketua Harian Ikatan Keluarga Kalimantan Barat (IKKB), Budi Siswanto. (Ist)
Rabu, 13 Mei 2026 11:23 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Ketua Harian Ikatan Keluarga Kalimantan Barat (IKKB), Budi Siswanto menyampaikan keprihatinannya terhadap insiden yang dialami peserta Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI asal SMAN 1 Pontianak yang jawaban benarnya justru dinyatakan salah oleh dewan juri.

Budi mengatakan, kejadian tersebut tidak hanya merugikan peserta, tetapi juga dapat memengaruhi mental dan kepercayaan diri pelajar yang telah mempersiapkan diri secara maksimal untuk mengikuti kompetisi.

 
"Kami sangat prihatin atas kejadian yang menimpa pelajar asal SMAN 1 Pontianak. Dalam sebuah perlombaan akademik, objektivitas dan ketelitian sangat penting agar tidak menimbulkan rasa kecewa maupun ketidakadilan bagi peserta," kata Budi, Rabu (13/5/2026).
 
Menurutnya, para peserta telah membawa nama baik daerah dan sekolah. Sehingga, seluruh proses penilaian seharusnya dilakukan secara profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
 
Ia berharap, panitia dan pihak terkait dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penjurian agar kejadian serupa tidak kembali terjadi pada pelaksanaan lomba berikutnya.
 
"Saya juga mengusulkan agar lomba ini dapat diulang untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta secara fair," terangnya.
 
Budi menginginkan, dewan juri ke depan adalah bukan figur yang antikritik dan menunjukkan arogansi di depan para peserta yang masih merupakan pelajar. Sebab, hal ini akan memberikan keteladanan yang buruk.
 
"Kami berharap ada evaluasi dan perbaikan sistem penilaian ke depan. Jangan sampai semangat pelajar untuk berprestasi justru menurun akibat kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari," tegasnya.
 
Budi juga meminta seluruh pihak tetap menjaga suasana kondusif dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai pembelajaran bersama demi meningkatkan kualitas pelaksanaan kompetisi pendidikan di masa mendatang.
 
"Anak-anak ini telah berusaha dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Mereka patut diapresiasi dan diberikan keadilan," jelasnya.
 
Budi mengapresiasi pihak MPR RI yang sudah secara cepat juga melakukan evaluasi dengan menonaktifkan para juri dam MC yang terlibat dalam lomba tersebut.
 
"Saya juga minta ke depan agar ada perekaman jawaban dari peserta lomba agar saat ada kejadian seperti sangat mudah menyelesaikannya, tinggal diperdengarkan kembali jawaban peserta yang sudah disampaikan," pungkasnya.
 
Untuk diketahui, polemik penilaian dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Tiga sekolah yang lolos ke babak final yakni SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
 
Dalam lomba itu, peserta dari SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra yang ada di Grup C mendapat nilai minus lima untuk jawaban terkait proses pemilihan anggota BPK.
 
Namun, jawaban serupa yang disampaikan Grup B dari SMAN 1 Sambas justru diberi nilai 10 oleh juri yang sama, yakni Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI, Dyastasita. 
 
Josepha sempat memprotes lantaran merasa jawaban mereka sama. Namun, juri bersikukuh jawaban yang diberikan salah. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Umum, MPR RI, DKI Jakarta
wwwwww