Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
12 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
11 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
3
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
6 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
4
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
6 jam yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
5
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
5 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
6
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
5 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Suntikan Dana Triliunan Belum Mampu Redam Laju Kenaikan Dolar AS

Suntikan Dana Triliunan Belum Mampu Redam Laju Kenaikan Dolar AS
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa
Rabu, 20 Mei 2026 08:26 WIB

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terus mengalami tekanan berat hingga menembus level Rp17.705 per dolar Amerika Serikat (AS). Strategi intervensi pasar obligasi yang dilancarkan pemerintah dengan menyiapkan dana perlindungan sebesar Rp2 triliun per hari rupanya belum membuahkan hasil signifikan untuk menahan laju mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa dari anggaran jumbo yang dipersiapkan, pasar baru menyerap sekitar Rp600 miliar. Kondisi ini diklaim sebagai sinyal penyeimbang karena menunjukkan tekanan jual di pasar obligasi sebenarnya belum terlalu tinggi.

"Kemaren aja saya sudah targetkan Rp 2 triliun, hanya dapat Rp 600 miliar. Artinya yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kita pastikan harga bond tetap terkendali," ujar Purbaya, Kamis (19/5/2026).

Meski pemerintah sudah mulai memborong obligasi sejak pekan lalu, keperkasaan dolar AS tetap sulit dibendung dan menyentuh angka tertinggi pada perdagangan Selasa sore. Menghadapi situasi pergerakan grafik tersebut, langkah penyelamatan pemerintah saat ini masih berfokus pada instrumen tata kelola internal atau cash management.

Purbaya menegaskan pihaknya belum merasa perlu mengaktifkan skema bond stabilization framework yang secara teknis akan melibatkan suntikan kekuatan dari lembaga keuangan lain seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

"Ada emang kita menjaga, ada dua, kita bicara masuk melalui framework maupun melalui cash management kita sendiri. Ini baru cash management. Kalau framework nanti saya panggil SMI dan lain-lain untuk ikut. Tapi sekarang belum separah itu keadaannya, masih relatif lumayan lah," tegasnya.

Kebijakan penggelontoran dana harian untuk pembelian obligasi ini diputuskan tak lama setelah dirinya mendapat panggilan langsung dari Presiden, Prabowo di kompleks Istana Kepresidenan. Masuknya pemerintah ke pasar secara masif diharapkan bisa secepatnya memperkuat kembali pondasi rupiah di tengah gejolak valuta asing.

"Kita sudah masuk ke bond market bertahap ya. Asing juga sudah masuk juga. Jadi, harusnya sih ke depan, minggu-minggu ini akan lebih stabil. Saya akan masuk setiap hari di bond market. Saya minta masuk Rp 2 triliun setiap hari," jelasnya, Senin (18/5/2026).***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:detik.com
Kategori:Voli, Ekonomi, KONI, DKI Jakarta
wwwwww