Ekonomi Riil Tumbuh 5,61 Persen, CEO Astronacci Sebut Kejatuhan Pasar Saham Akibat Sentimen Buatan
![]() |
| CEO dan pendiri perusahaan riset pasar keuangan Astronacci International, Prof Gema Goeyardi. (Foto: ANTARA/HO-Astronacci International). |
JAKARTA - Sektor keuangan dalam negeri tengah mengalami tekanan berat setelah nilai tukar rupiah melemah ke tingkat di atas Rp18.100/US$ dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok ke area 5.400-an dari posisi puncaknya di level 9.000-an. Kondisi ini disinyalir bukan akibat faktor fundamental, melainkan dampak dari operasi senyap korporasi asing.
"Ada tangan-tangan jahat yang mengontrol kekacauan yang terjadi di Indonesia pada saat ini. Mari kita bongkar sama-sama," ujar Founder dan CEO Astronacci International, Prof Gema Goeyardi melalui kanal YouTube @astronacciinternational, Selasa (9/6/2026).
Gema menjelaskan ada tiga isu besar yang dihadapi negara saat ini, yaitu problem internal, eksternal, dan skema Indonesia dalam serangan (Indonesia Under Attack).
Terkait urusan internal, Gema mengaku sudah memaparkan kelemahan sistemik yang ada saat rapat di MPR, diskusi bersama Doktor Ibas, serta di berbagai program podcast. Sementara untuk faktor eksternal, narasi yang berkembang dinilai hanya mengarahkan opini publik untuk menyalahkan Presiden AS Donald Trump.
Dirinya memilih fokus membedah skenario serangan asing yang kini mengacaukan instrumen investasi nasional di tengah kondisi ekonomi yang sebenarnya sangat sehat.
"Ada sebuah asumsi yang makin hari makin nyata. It's not about fundamental. Ini perang senyap yang terjadi. Rupiah dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dihajar habis-habisan di kala fundamental ekonomi sedang bagus," paparnya.
Penilaian Gema didasarkan pada lima indikator fundamental ekonomi nasional yang tercatat positif:
- Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 kokoh di angka 5,61 persen, rekor tertinggi sejak 2021.
- Tingkat inflasi domestik terkendali pada level 3,08 persen.
- Cadangan devisa negara melimpah di angka US$146,2 militar.
- Rasio utang terhadap PDB berada di batas aman 40,75 persen.
- Neraca perdagangan surplus US$5,64 miliar selama periode Januari-April 2026.
Kombinasi data makro ini seharusnya mengundang sentimen positif, namun bursa dalam negeri justru terus ditekan melalui penurunan nilai aset secara masif.
"Seluruh data riil ini seharusnya memberikan sentimen positif terhadap pasar. Indonesia diasumsikan, dipersepsikan, dicocoklogikan sebagai tempat investasi terburuk. Sehingga muncul sale, sale, dan sale," kritiknya.
Meski indikator pasar keuangan memerah, Gema menolak narasi yang menyebut Indonesia sedang menuju jurang resesi finansial.
"Lihat saja pusat perbelanjaan, mal, atau restoran, masih banyak pengunjungnya. Nanti kita lihat ketika iPhone 18 keluar. Berapa panjang antrean orang Indonesia untuk membeli handphone seharga Rp35 jutaan. Artinya yang krisis itu orang-orang di financial market dan mereka yang menebar ketakutan dan hoaks," cetusnya.
Berdasarkan catatan Astronacci, instrumen pasar modal Indonesia terus dihantam rangkaian sentimen negatif dari lembaga keuangan global sepanjang tahun 2026:
- Januari 2026: MSCI membekukan indeks Indonesia dan mengancam menurunkan status ke kategori frontier, memicu hilangnya kapitalisasi pasar hingga US$120 miliar. Bersamaan dengan itu, Goldman Sachs menurunkan peringkat pasar saham menjadi underweight, yang memicu capital outflow sebesar US$13 miliar.
- Evolusi Rating: UBS dari Swiss mengubah rekomendasi sektor keuangan dari buy menjadi netral, memicu melesunya optimisme para manajer investasi global.
- Februari 2026: Moody's mengubah outlook Indonesia menjadi negatif secara mendadak dengan menyoroti institusi Danantara dan postur fiskal. "Lagi-lagi yang disorot Danantara dan fiskal. Mohon maaf, kelemahan Danantara juga banyak. Misalnya, bagaimana laporan keuangan riilnya," tandas Gema.
- Mei 2026: MSCI mendepak 19 emiten dari indeks global miliknya, menyebabkan penarikan dana keluar secara pasif senilai Rp28 triliun hingga Rp31,5 triliun.
Gema tidak menampik adanya masalah keterbukaan data free float di bursa saham domestik. Namun, momen manuver lembaga keuangan Barat saat ini memicu kecurigaan tersendiri.
"Ada tanda tanya besar, kenapa MSCI concern terhadap pasar modal kita pada saat ini. Padahal, persoalan ini sudah terjadi sejak dulu. Nah, yang pegang tombol itu MSCI, Goldman Sachs, Moody's, dan UBS, entitas poros AS atau Barat. Atau entitas poros kapitalis," sambungnya. ***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Ekonomi |













