Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
14 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
9 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
13 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
10 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
13 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Badminton

OMC Hasilkan Hujan di Jakarta, Penurunan Polutan Capai 57 Persen

OMC Hasilkan Hujan di Jakarta, Penurunan Polutan Capai 57 Persen
‎Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Marulitua Sijabat. (Ist).
Jum'at, 28 Agustus 2026 17:35 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Pemprov DKI Jakarta menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menghadapi dampak musim kemarau sekaligus membantu menekan polusi udara di Ibu Kota.

Operasi ini dilakukan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Smart Cakrawala Aviation.

‎
‎Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Marulitua Sijabat mengatakan, OMC dilaksanakan berdasarkan pemantauan kondisi atmosfer secara real time dan rekomendasi BMKG.
‎
‎Langkah tersebut dilakukan setelah lima wilayah kota administrasi Jakarta berstatus Siaga peringatan dini kekeringan meteorologis. Kondisi itu ditandai dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) sedikitnya 31 hari berturut-turut.
‎
‎Selain ancaman kekeringan, kualitas udara Jakarta juga menjadi perhatian. Sebelum 20 Agustus 2026, kualitas udara Ibu Kota tercatat berada dalam kategori tidak sehat selama 26 hari terakhir.
‎
‎"Kami melakukan ikhtiar bersama untuk menjaga Jakarta dari potensi ancaman musim kemarau. Modifikasi cuaca ini dilakukan di lokasi yang telah kami pantau, termasuk titik-titik dengan angka polutan relatif tinggi," kata Maruli di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (28/8).
‎
‎Posko OMC di Bandara Pondok Cabe telah diaktifkan sejak 21 Agustus 2026. Hingga 26 Agustus, sebanyak 24 sorti penerbangan telah dilakukan dengan total durasi sekitar 21 jam.
‎
‎Operasi tersebut menggunakan dua pesawat Cessna Caravan 208B milik Smart Cakrawala Aviation. Pesawat melakukan penyemaian pada awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
‎
‎Dalam kondisi tertentu, penyemaian juga diarahkan ke titik-titik prioritas yang teridentifikasi memiliki kualitas udara kurang baik atau kadar PM2.5 tinggi.
‎
‎Hasil sementara menunjukkan OMC berhasil menghasilkan hujan di sejumlah wilayah Jakarta pada 27 Agustus 2026. Evaluasi awal juga memperlihatkan adanya penurunan polutan di sejumlah wilayah dengan kisaran 23-50 persen.
‎
‎Bahkan, penurunan polutan tertinggi sementara tercatat mencapai 57 persen.
‎
"OMC berhasil mengoptimalkan potensi hujan di beberapa lokasi. Kami juga melihat adanya penurunan angka polutan, namun hasilnya tetap kami evaluasi karena kondisi atmosfer sangat dinamis," ujar Maruli.
‎
‎Meski demikian, Pemprov DKI menegaskan OMC bukan satu-satunya upaya untuk menangani persoalan kualitas udara Jakarta.
‎
‎Maruli menyatakan, penurunan kadar PM2.5 yang terlihat dari evaluasi sementara masih perlu dicermati lebih lanjut. Menurutnya, pengendalian kualitas udara harus dilakukan secara menyeluruh dan konsisten, terutama dari sumber pencemarnya.
‎
‎"Penurunan PM2.5 yang terlihat dalam evaluasi sementara tentu kami cermati, tetapi OMC bukan solusi tunggal. Persoalan kualitas udara harus ditangani secara menyeluruh dan konsisten dari sumber pencemarnya," tegasnya.
‎
‎Karena itu, Pemprov DKI tetap menjalankan sejumlah kebijakan pengendalian kualitas udara. Langkah tersebut meliputi pemantauan kualitas udara, pengawasan emisi kendaraan bermotor, pengendalian emisi industri dan kegiatan usaha, penguatan transportasi publik, serta edukasi masyarakat.
‎
‎Masyarakat juga diimbau tidak membakar sampah dan menggunakan air secara bijak di tengah kondisi kemarau.
‎
‎"OMC kami tempatkan sebagai salah satu instrumen mitigasi yang berbasis data dan kondisi atmosfer. Operasi hanya dilakukan ketika secara teknis memungkinkan dan memang dapat memberikan manfaat berdasarkan rekomendasi BMKG," ungkap Maruli.
‎
‎Dari sisi teknis, BMKG menyesuaikan metode dan bahan semai yang digunakan dengan kondisi atmosfer. Pada musim kemarau, salah satu metode yang diterapkan adalah water mist menggunakan campuran air dan surfaktan SLS (Sodium Lauryl Sulfate).
‎
‎Tim supervisi OMC dari BMKG, Sutrisno menjelaskan, penggunaan metode tersebut ditujukan untuk membantu mengikat polutan di udara.
‎
‎"Pada modifikasi cuaca kali ini, metode yang digunakan berbeda dengan saat musim penghujan. Pada musim kemarau, kami menggunakan surfaktan yang dicampur dengan air untuk membantu mengikat polutan dan menurunkan angka polutan di wilayah DKI Jakarta," ucap Sutrisno.
‎
‎Sementara itu, apabila hasil pemantauan menunjukkan adanya pertumbuhan awan yang memenuhi kriteria, tim dapat menggunakan bahan semai CaCl2 atau kalsium klorida.
‎
‎Bahan tersebut digunakan untuk membantu proses kondensasi sehingga potensi hujan yang telah terbentuk secara alami dapat dioptimalkan.
‎
‎"Ketika hasil pemantauan menunjukkan adanya pertumbuhan awan yang memenuhi kriteria, bahan semai CaCl2 dapat digunakan untuk membantu proses kondensasi awan. Metode ini dilakukan secara bersama dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer yang ada," pungkas Sutrisno. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Badminton, DKI Jakarta
wwwwww