Harga Minyak Sentuh USD 98, Kebutuhan Dolar AS untuk Impor Melonjak 27 Persen
![]() |
| Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, Jakarta. (kapanlagi.com/budy santoso) |
Beban Impor Sektor Energi
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menerangkan, pelaku pasar valuta asing mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap ancaman defisit neraca perdagangan. Beban ini dipicu oleh tren kenaikan komoditas energi, di mana harga minyak Brent telah menembus USD 98 per barel dan WTI berada di level USD 93 per barel.
"Peningkatan permintaan dolar terbesar berasal dari impor yang naik 27 persen secara tahunan," paparnya.
Meningkatnya tagihan impor membuat korporasi di dalam negeri harus memborong dolar AS dalam jumlah besar. Jika harga minyak terus bertahan di level tinggi, tekanan terhadap cadangan devisa dan stabilitas rupiah di pasar domestik diperkirakan masih akan berlanjut.
Tertolong Spekulasi Suku Bunga BOJ
Meski tertekan sentimen internal, Rully Nova memperkirakan rupiah masih memiliki peluang untuk ditutup menguat hari ini berkat membaiknya performa mata uang di kawasan Asia.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat tipis dipengaruhi oleh menguatnya mayoritas mata uang kawasan, terutama yen Jepang seiring melandainya index dollar," tambahnya.
Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda dilaporkan siap mengerek suku bunga dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi negaranya. Spekulasi ini membuat yen Jepang perkasa hingga kisaran 155 per dolar AS. Ditambah dengan ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan mempertahankan suku bunganya, dominasi dolar AS di pasar Asia mulai perlahan surut. ***













