Jangan Cuma Andalkan BI Rate, Ini Strategi Tahan Pelemahan Rupiah ke Rp17.800
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA - Para pelaku pasar modal dan pengambil kebijakan di Tanah Air harus segera memasang sabuk pengaman guna menghadapi gelombang baru tingginya harga modal global. Pergeseran ekspektasi suku bunga The Fed yang dipadukan dengan krisis pasokan energi global menuntut strategi pertahanan ekonomi yang lebih berlapis.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini bukan semata-mata arah kebijakan The Fed, melainkan perubahan clearing price of capital di tingkat global yang bisa berlangsung lama. Ketergantungan penuh pada BI Rate sebagai satu-satunya obat penawar dinilai kurang tepat karena masalah likuiditas, aliran modal, dan inflasi akibat minyak membutuhkan penanganan yang berbeda-beda.
"Tetapi persoalan rupiah, likuiditas domestik, capital flow dan inflasi akibat minyak tidak seluruhnya mempunyai penyakit yang sama. Karena itu obatnya juga tidak harus satu," jelasnya.
Situasi pasar saat ini menunjukkan yield US Treasury mulai mendekati level 5 persen. Sejalan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun ikut terkerek 4,2 basis point ke posisi 7,15 persen pada Senin (14/9/2026), dan tenor 5 tahun naik 9,2 basis point menjadi 7,03 persen. Fakhrul menyarankan agar yield SUN bertenor 10 tahun diberikan ruang gerak hingga 7,3–7,5 persen sebagai pelindung daya tarik aset domestik.
"Justru yield yang menemukan clearing price dapat menjadi salah satu guardrail bagi rupiah karena membantu mempertahankan daya tarik aset Indonesia ketika yield global naik," paparnya.
Tekanan terhadap instrumen investasi ini sejalan dengan melemahnya nilai tukar. Office of Chief Economist Bank Mandiri memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif di rentang Rp17.590 hingga Rp17.685 per dolar AS pada hari ini. Salah satu motor penggerak pelemahan ini adalah lonjakan harga minyak mentah Brent yang kembali menyentuh US$ 107 per barel pada Senin pagi, setelah sebelumnya sempat turun 2,81 persen menjadi US$ 104,6 pada Jumat (11/9/2026). Secara keseluruhan, minyak Brent telah melesat tajam sebesar 71,91 persen secara year to date.
Menurut Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro, gangguan keamanan di kawasan Teluk dan penutupan pipa East-West Arab Saudi sangat memperburuk risiko energi jangka panjang. Meski ancaman inflasi global nyata adanya, pasar obligasi Indonesia masih mendapat suntikan angin segar. Tercatat, arus masuk modal asing (net inflow) menyentuh angka Rp10,1 triliun pada Kamis (10/9/2026), yang memperlebar total aliran dana masuk menjadi Rp11,7 triliun (mtd) dan Rp40,8 triliun (ytd).
Dengan lengkapnya amunisi kebijakan Bank Indonesia—mulai dari intervensi spot, DNDF, hingga LCT—Fakhrul meyakini batas pelemahan nilai tukar hanya akan tertahan di Rp17.800 per dolar AS.
"Saya tidak melihat kondisi sekarang sebagai alasan untuk menjadi terlalu bearish terhadap rupiah. Tekanan memang ada, tetapi pelemahannya dari level saat ini seharusnya relatif terbatas apabila policy reaction function kita tepat," pungkasnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | tempo.co |
| Kategori | : | Ekonomi, KONI, DKI Jakarta |













