Antisipasi Risiko Pasokan Global, Pemerintah Pacu Cadangan Minyak Nasional Lewat Storage Sumatera
![]() |
| Menteri ESDM sekaligus Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia. |
JAKARTA - Pemerintah mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi dengan merencanakan pembangunan beberapa titik penyimpanan (storage) minyak mentah (crude oil) di Pulau Sumatera. Langkah ini diambil untuk memastikan tersedianya ruang penampungan komoditas impor yang memadai bagi pasokan energi dalam negeri.
Menteri ESDM sekaligus Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa storage tersebut disiapkan untuk menampung cadangan minyak di atas 20 hari, serta diproyeksikan sanggup menyokong kebutuhan hingga batas 60 hari.
"Kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan import crude, itu semuanya bisa ada tempatnya di atas 20 hari. Target kita bisa sampai dengan 60 hari," kata Bahlil seusai mengikuti rapat terbatas ekonomi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Evaluasi Potensi Gempa dan Kerawanan Lokal
Guna merealisasikan rencana tersebut, dokumen engineering feasibility study (EFS) atau studi kelayakan teknis telah selesai disusun. Pemerintah berencana menggelar pengecekan langsung ke lokasi target pada akhir tahun ini guna memetakan tingkat kerawanan gempa serta stabilitas keamanan di area sekitar.
Upaya pembentukan storage baru ini ditujukan agar cadangan minyak nasional dapat mendekati standar baku internasional yang berada pada durasi 90 hari.
"Standar minimum dunia itu kan di 3 bulan, 90 hari. Jadi kita akan mendekati ke sana. Minimal kalau tidak sama, minimal mendekati ke sana," paparnya.
Integrasi Sektor Hulu Bioetanol dan Pertahanan B50
Di samping kesiapan storage, Presiden Prabowo Subianto turut mencermati kesiapan operasional mandatori bioetanol E20 hingga E50. Menjawab arahan tersebut, Bahlil mengaku telah merancang strategi terintegrasi bersama Menteri Pertanian untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan baku dari sektor hulu.
Di sisi lain, skema pemanfaatan biodiesel B50 akan terus dipertahankan sebagai benteng pertahanan energi di tengah eskalasi geopolitik global yang tidak menentu.
"Dan menyangkut dengan B50 tetap kita pertahankan, karena ini adalah geopolitik yang tidak pernah kita tahu ujungnya kemana," pukasnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | rmol.id |
| Kategori | : | Nusantara, DKI Jakarta |













