Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
14 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
18 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
13 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
15 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
20 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
20 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Badminton
Pesona Indonesia 2016

Kemenpar Buka Kelas Speleologi Wisata Goa di STP Bandung

Kemenpar Buka Kelas Speleologi Wisata Goa di STP Bandung
Logo STP Bandung.
Minggu, 28 Februari 2016 19:02 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
BANDUNG- Perkembangan dunia pariwisata makin pesat dan ke segala penjuru. Terutama wisata minat khusus seperti wisata penelusuran goa yang sedang populer di Indonesia. Kementerian Pariwisata melalui Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) pun, langeung membuka Kelas Tematik Speleologi, Sabtu, 27-28 Februari 2016 di Ruang Rapat Rektorat STP Bandung, Jawa Barat.

"Pariwisata dengan objek alam, apalagi peninggalan heritage, itu harus berpedoman pada sustainable tourism development. konsep ini sudah ada pedomannya di UN-WTO. Semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan. Goa-goa yang banyak ditemukan masyarakat pun harus memegang teguh pada prinsip itu, harus lestari, harus dijaga dengan baik," kata Menpar Arief Yahya, di Jakarta.

Kelas yang digelar bermateri pariwisata adalah Pengelolaan Wisata, Kepemanduan Wisata, dan Aplikasinya dalam Pengelolaan Wisata Minat Khusus Gua itu hasil kerjasama dengan Indonesia Speological Society (ISS). Ini baru pertama digelar dalam sejarah sekolah Pariwisata.

"Ini merupakan, sebuah terobosan yang dilakukan oleh perguruan tinggi kami,” ujar Deputi Kelembagaan Kemenpar, Ahman Sya. Lebih lanjut Ahman mengatakan, kelas Tematik tersebut, diikuti sekira 30 peserta yang datang dari berbagai daerah dan latar belakang, yang bertujuan menyamakan persepsi tentang pariwisata, terutama wisata gua, sekaligus mengembangkan potensi sumberdaya manusia untuk bersiap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang sudah terbuka.

Kelas Tematik dihadiri dan dibuka langsung oleh Direktur STP Bandung Anang Sutono. Anang juga memberikan arahan, bagaimana menyatukan potensi dalam satu harmoni untuk mengembangkan potensi karst dan gua untuk pemanfaatan yang berkelanjutan.”Semoga kelas tematik speleologi ISS juga bergulir dengan tema-tema beragam untuk menghadapi paradigma baru tata kelola karst dan gua serta potensi ancaman kelestariannya,” ujar Anang.

Hal senada diungkapkan oleh Presiden ISS Cahyo Rahmadi. Kata Cahyo, semua ini perlu disikapi dengan paradigma berpikir dan perhatian yang juga khusus. Sebuah fenomena menarik ketika gua menjadi objek dan destinasi wisata, dengan tanpa mengesampingkan risiko dan bahaya penelusurannya, ternyata memiliki potensi yang jika dikelola secara tepat dan layak dapat menjadi alternatif destinasi wisata yang menawarkan elemen yang kompleks mulai dari wisata rekreasional, edukasional, dan petualangan. "ISS juga ingin mempunyai semangat Marching Forward to a world class speleological society,” katanya.

Perlu diketahui, saat ini sudah ramai daerah-daerah yang memiliki gua karst kemudian memaksakan diri membuka gua-gua di daerahnya menjadi gua wisata. ”Walaupun secara karakteristik tampilan eksternal dan internal gua-nya sendiri tidak memiliki daya tarik atau terlalu berbahaya jika dijual sebagai objek wisata. Maka ini harus juga diiringi dengan pendidikan dan pemahaman yang baik,” ujarnya.

Demikian juga terjadi bagi pelaku wisatanya, masih kata Ahman, baik pengunjung maupun pemandu yang belum memiliki standard dan kualifikasi yang didukung pengalaman serta keterampilan yang mumpuni. ”Nantinya ini dikhawatirkan menjadi bom waktu yang tidak dapat diprediksi kapan meledak dan menelan korban dikarenakan banyaknya faktor hazard yang saling terkait satu sama lainnya,” tambah pria yang pernah mengambil S2 di Belgia itu. (*/dnl)

wwwwww