Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
22 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
2
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
21 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
3
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
24 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
4
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Metropolitan
22 jam yang lalu
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
5
Kecerdikan Igor Tolic Baca Arah Permainan Melbourne Victory
Sepakbola
23 jam yang lalu
Kecerdikan Igor Tolic Baca Arah Permainan Melbourne Victory
6
Timnas Indonesia Gelar Pemusatan Latihan di Bali pada FIFA Matchday November
Sepakbola
21 jam yang lalu
Timnas Indonesia Gelar Pemusatan Latihan di Bali pada FIFA Matchday November
Home  /  Berita  /  Badminton

Peringatan Hari Anak Nasional, Anak Marjinal Rentan Mendapat Kekerasan

Peringatan Hari Anak Nasional, Anak Marjinal Rentan Mendapat Kekerasan
Sekitar 800 anak marjinal ikut dalam kegiatan 'Jambore Sahabat Anak' di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu, 22 Juli 2017. (TEMPO/Larissa).
Sabtu, 22 Juli 2017 17:25 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Anak-anak dari kalangan marjinal merupakan kelompok anak yang rentan mendapatkan tindakan kekerasan dalam kehidupan sehari-harinya.

Padahal, setiap anak, termasuk anak-anak dari kelompok marjinal, berhak mendapatkan perlindungan atas hidupnya. Atas dasar pemikiran tersebut, Komunitas Sahabat Anak menggelar kegiatan Jambore Sahabat Anak XXI yang melibatkan sekitar 800 anak dari kelompok marjinal di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan.

Koordinator Jambore Sahabat Anak, Saskia Risita Indrasari, mengatakan butuh cara khusus untuk menyampaikan hak perlindungan mereka terhadap anak.

"Penyampaian hak untuk dilindungi kepada anak marjinal dan anak biasa itu sama saja. Karena sasarannya anak-anak, makanya bahasanya harus down to earth, yang mudah mereka pahami," ujar Saskia saat dijumpai di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu, 22 Juli 2017.

Dari hal yang paling sederhana, Saski mencontohkan, setidaknya anak-anak memahami bahwa anggota tubuh mereka harus terlindungi dari tindakan kekerasan. Untuk memudahkan anak-anak marjinal tersebut bahwa anggota tubuh mereka merupakan otoritasnya pribadi, kakak pendamping akan memberikan penjelasan lewat permainan.

"Mereka diajari untuk aware sesederhana menggambar anggota tubuhnya. Lalu, mereka diminta menilai mana anggota tubuh yang sakit ketika dimarahi," ujar Saskia.

Ketika mendapatkan pertanyaan tersebut, anak-anak akan dipersilakan untuk memberikan tanda pada gambar anggota tubuh mereka yang tersakiti.

Mereka boleh mencoret bagian mana saja, entah itu telinga atau perasaannya yang terluka.

"Yang selama ini mereka setiap hari diomeli biasa aja, sekarang kami ingin menyadarkan mereka bahwa itu bentuk kekerasan sebenarnya, mereka seharusnya berhak bersuara dan minta tolong," ujar Saskia.***

Sumber:Tempo.co
Kategori:Badminton, PON, Olympic, Umum, Voli, DKI Jakarta
wwwwww