Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
22 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
18 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
3
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
15 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
4
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
16 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
5
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
20 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
6
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Metropolitan
16 jam yang lalu
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Home  /  Berita  /  Badminton

Monash University: Cak Imin Perwujudan Islam-Nasionalis

Monash University: Cak Imin Perwujudan Islam-Nasionalis
Sabtu, 28 Juli 2018 21:56 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Professor Sharon Pickering, Dekan Fakultas Seni Universitas Monash memerkenalkan sosok Muhaimin Iskandar alias Cak Imin pada mahasiswanya pada Jumat (27/7) di Melbourne, Australia. Dia menyebut Wakil Ketua MPR RI itu sebagai politisi mumpuni yang punya sederet prestasi di bidang politik.

"Saya perkenalkan Mr. Abdul Muhaimin Iskandar, wakil ketua MPR serta ketua umum PKB. Usia 33 tahun dulu sudah menjadi wakil ketua parlemen pertama pasca reformasi, kemudian terpilih sampai tiga kali, pernah menjadi menteri, dan sekarang menjadi kandidat wakil presiden terkuat di politik Indonesia. I am impressed (saya terkesan)," kata Sharon.

Cak Imin hadir di Monash Caulfield Faculty of Arts Melbourne sebagai pembicara tunggal dalam kuliah umum bertajuk Islam and Nationalism. Dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan mahasiswa, warga Indonesia di Melbourne, pengurus cabang NU serta civitas akademika Monash, Cak Imin disambut hangat oleh tuan rumah dan peserta.

"Mr. Iskandar berhasil.membawa PKB keluar dari krisis, dari masa-masa sulit. Dalam usianya yang muda. Beliau juga selalu tampak gembira. Saya betul-betul apresiasi," ujar Sharon yang ditimpali tepuk tangan peserta.

Dalam pidatonya berjudul Indonesia, Islam dan Nasionalisme, Cak Imin menegaskan bahwa tidak ada yang perlu dipertentangkan antara Islam dan Kebangsaan. Islam justru mendorong agar kita mencintai tanah air dan kampung halaman tempat kita lahir dan tumbuh.

"Cinta tanah air, cinta kampung halaman itu sesuatu yang manusiawi dan alamiah. Kita ingat saat Nabi Muhammad harus meninggalkan Mekkah akibat tekanan kaum Quraisy, beliau bersabda: betapa indahnya engkau, wahai Mekkah. Betapa cintanya aku padamu. Jika bukan karena aku dikeluarkan oleh kaumku darimu, aku takkan meninggalkanmu dan takkan kutinggali tempat selainmu," demikian petikan sejarah Rasulullah yang diungkapkan Cak Imin dalam kuliah umumnya.

"Jangan dipertentangkan. Meskipun 85% warga Indonesia adalah muslim, namun para kyai pendiri bangsa telah memutuskan bahwa negara kita bukan negara Islam. Ini sikap mulia. Kalau bukan karena keikhlasan ini, kita tidak akan lahir sebagai sebuah bangsa merdeka yang besar".

Diskusi tanya jawab yang dimoderatori oleh Asisten Profesor Julian Millie berlangsung intens dan seru. Peserta pada umumnya meminta penjelasan bagaimana aspirasi umat di Indonesia, baik secara ekonomi politik maupun sosial budaya. ***

wwwwww