Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
14 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
12 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
3
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
21 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
4
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
10 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
5
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
20 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
6
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
8 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Home  /  Berita  /  DKI Jakarta

Ada Banyak Potensi Tani, Kepulauan Meranti Buka Pintu Investasi

Ada Banyak Potensi Tani, Kepulauan Meranti Buka Pintu Investasi
Pertanian berkelanjutan. (Ilustrasi: Ist.)
Senin, 27 Januari 2020 17:42 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
MERANTI - Kepala bidang Ketahanan Pangan DKPTPP Kabupaten Kepulauan Meranti, Irfandi menyatakan, Pemerintah Kabupaten telah memiliki visi besar pembangunan sektor pertanian guna meningkatkan perekonomian dan ketahanan pangan warga. Sentralisasi kawasan agrikultur, jadi salah satu program.

"Sekarang ini kan dalam satu lahan masyarakat, ditanami macam-macam, ada pisang disitu, ubi disitu, dan lain-lain, jadi tidak optimal," kata Irfandi kepada wartawan, Senin (27/1/2020).

Pemerintah, kata Irfandi, sempat mengadakan rapat dengan Kepala Desa terkait upaya pembangunan sektor pertanian ini. Kepala Desa akan menyiapkan lahannya, sementara Pemerintah Kabupaten berupaya memenuhi berbagai dukungan termasuk permodalannya.

"Kami ada 9 Kecamatan. Tiap Kecamatan itu beda-beda kapasitas ketersediaan lahannya, mulai dari 30 ha sampai 100 ha," kata Irfandi.

Di sebaran lahan itu, kemampuan masyarakat untuk mengelola pertanian masih sangat terbatas, sementara dukungan Angaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) juga terbatas. Kata dia, "kalau hanya beberapa hektar mungkin APBD masih bisa, tapi ini kan banyak, luas,".

Belum lagi, pekerjaan rumah bagi visi pembangunan pertanian juga mesti memperhatikan industri hilir dari pertanian itu sendiri. Dari potensi umum perkebunan yang ada misalnya, seperti komoditas Sagu (Metroxylon sp), Kelapa, Karet, Pinang, Kopi, belum dioptimalkan ke industri hilir sehingga belum membawa nilai tambah yang lebih luas.

Arah pembangunan sektor pertanian secara komprehensif hingga ke industrinya itu, merupakan suatu agenda yang membutuhkan biaya tak sedikit. Karenanya, kata Irfandi, perlu sinergitas yang baik antara Pemerintah Kabupaten, Provinsi, hingga Pemerintah Pusat, dan keterbukaan kepada para investor.

"Sudah pernah dibicarakan soal ini, dan kami memang terbuka pada investor," kata Irfandi.

Bagaimana pun, Irfandi menegaskan, visi pembangunan sektor pertanian Kepulauan Meranti membawa misi kesejahteraan bagi masyarakat. "Kalau bisa jangan lagi ada masyarakat kita kerja ke luar daerah, karena pekerjaan di sini sudah terpenuhi. Ada pertaniannya, ada industrinya,".

Merujuk pada pidato Wakil Bupati Kepulauan Meranti beberapa waktu lalu yang menekankan tentang pengentasan stunting, menurut Irfandi, pembangunan sektor pertanian adalah upaya nyata yang sejalan. Karena tak hanya meningkatkan perekonomian tapi juga menangani kerawanan pangan.

"Soal stunting itu kan kira-kira dua sebabnya. Satu, kemiskinan. Dua, kerawanan pangan," kata Irfandi.***

wwwwww