Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
21 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
2
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
22 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
3
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
18 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
4
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
18 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
5
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
16 jam yang lalu
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
6
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
17 jam yang lalu
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
Home  /  Berita  /  Olympic

Epidemiolog Ingatkan Potensi Tsunami Covid-19 India Bisa Terjadi di Indonesia

Epidemiolog Ingatkan Potensi Tsunami Covid-19 India Bisa Terjadi di Indonesia
Ilustrasi pemakaman Covid. (Foto: Istimewa)
Minggu, 20 Juni 2021 15:53 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman mengingatkan pada masyarakat dan pemerintah tentang bahayanya varian Covid-19 , seperti Delta dan Alfa. Maka itu, pandemi Covid-19 harus ditindaklanjuti dengan lebih serius melalui peningkatan testing dan tracing.

Menurutnya, tsunami Covid-19 sebagaimana yang terjadi di India bisa saja ada potensi terjadi di Indonesia meski tak sama persis. Sebabnya, banyak kasus positif Covid-19 yang tak terdeteksi di Indonesia ini, apalagi saat ini ditemukan varian baru seperti Alfa dan Delta.

"Varian Delta ini yang akan membuat kondisi signifikan berubah karena dia sangat cepat menular, bahkan sampai 70 persen dibandingkan varian Alfa. Lalu, dia juga menyebabkan tingkat keparahan karena tingkat hunian RS, orang di rawat di RS ini meningkat," ujarnya, Minggu (20/6/2021).

Selain itu, varian Delta juga bisa menyiasati sistem imunitas lantaran orang yang sudah divaksin masih bisa terinfeksi. Maka itu, testing dan tracing pun harus ditingkatkan agar jangan sampai kasus Covid-19 menjadi bom waktu yang meledak di waktu yang bersamaan.

"Ini harus direspons dengan tepat, dalam bentuk apa yang dilakukan Jakarta sudah tepat, penguatan di aspek testing dan tracing untuk menemukan kasus serta penemuan kasus harus dilihat sebagai satu langkah positif. Jangan melihatnya ke arah yang buruk atau aib karena banyak kasus ditemukan," tuturnya. 

Dengan ditemukannya banyak kasus di satu daerah, kata Dicky, artinya upaya penanggulangan Covid-19 sudah dianggap tepat. Apalagi, sejauh ini berdasarkan WHO hanya ada 3 wilayah yang memenuhi standar global dalam hal minimum testing di Indonesia, yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Sumatera Barat.***

wwwwww