Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
9 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
10 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
11 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
11 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
11 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Ekonomi
7 jam yang lalu
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Home  /  Berita  /  Non Olympic
Olimpiade 2020 Tokyo

Maria Kristin Tak Kaget Ada Unggulan Terhenti

Maria Kristin Tak Kaget Ada Unggulan Terhenti
Gregoria Mariska Tunjung (Dok. NOC Indonesia)
Jum'at, 30 Juli 2021 16:29 WIB
TOKYO - Legenda bulu tangkis  Maria Kristin Yuliantri  menilai peta persaingan di Olimpiade 2020 Tokyo sulit diprediksi. Sebab, minimnya tur akibat pandemi Covid-19 membuat para pemain tak bisa membaca kondisi peforma  satu dan lainnya.

Maria mengaku tak kaget apabila ada unggulan yang terhenti dini di Olimpiade. Sebut saja, unggulan satu ganda putra dari Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo hingga andalan tuan rumah yakni Kento Momota yang mengakhiri perjalanan lebih cepat sebelum babak akhir.

“Secara keseluruhan, tinggal dilihat siapa yang siap pasti menang. Hanya saja, selalu ada kejutan di lapangan,” kata Maria, Jumat (30/07).

Peraih perunggu tunggal putri Olimpiade 2008 Beijing ini menjelaskan bahwa hal tersebut biasa terjadi. Apalagi, dunia saat ini tengah menghadapi Covid-19 dan sempat membuat tur dihentikan. Meski sempat berjalan lati, tetapi turnamen digelar dalam keterbatasan penyelenggaraan.

“Meski sudah saling kenal kelebihan dan kelemahan masing-masing, tetapi tak mengetahui kondisi terbaru sesama pemain,” ujar Maria

Berbicara penampilan Gregoria, diakui Maria, pukulan dara 21 tahun ini cukup terarah dan bervariasi.  Gregoria terhenti di 16 besar usai kalah 12-21, 19-21 dari unggulan lima berpaspor Thailand Ratchanok Intanon.

“Pukulan Gregoria cukup menyulitkan lawan dan bisa jadi modal, tetapi Gregoria perlu meningkatkan fisik untuk permainan cepat dań serangan balik,” kata Maria. “Dulu waktu saya main, saya tekankan pada diri sendiri untuk selalu siap kuras tenaga, tak peduli siapa lawan.”

Sementara itu, Gregoria mengakui dirinya masih butuh meningkatkan permainan. Usai pertandingan di Musashino Forest Sport Plaza, Gregoria sempat menjelaskan kesulitannya mendapatkan tiket perempat final. Salah satunya karena terbawa irama permainan Intanon. Di samping itu, ia juga merasa belum bisa mengatasi tekanan dan ekspektasi sehingga tak mampu mengembangkan permainan.

Atas hasil itu, Gregoria mulai susun rencana. Alih-alih mematok target di turnamen tertentu, ia cenderung memilih kembali menempa diri di sesi latihan. Ia ingin mematangkan teknik dan kemampuan dirinya.

“Saya ingin mengatasi kekurangan saya dan memperbaiki permainan. Saya ingin melihat hasil pelatihan dulu, jadi targetnya satu per satu dulu,” tandasnya. ***

wwwwww