Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
20 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
15 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
3
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
14 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
4
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
13 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
5
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
18 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
6
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Umum
20 jam yang lalu
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Indonesia Desak Penyesuaian Tarif Ekspor ke AS, Airlangga: Harus Seimbang dengan Negara Pesaing

Indonesia Desak Penyesuaian Tarif Ekspor ke AS, Airlangga: Harus Seimbang dengan Negara Pesaing
Tangkapan Layar - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan dalam konferensi pers mengenai negosiasi dagang Indonesia–Amerika Serikat di Washington, DC, yang dipantau secara daring dari Jakarta, Jumat (18/4/2025). (antara/Putu Indah S)
Jum'at, 18 April 2025 13:57 WIB

JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah mendorong negosiasi tarif dengan Amerika Serikat agar produk ekspor nasional tidak lagi dikenakan bea masuk lebih tinggi dibanding negara pesaing. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan pentingnya keadilan tarif demi menjaga daya saing Indonesia di pasar global.

“Yang penting, Indonesia mendapat tarif yang lebih rendah dan seimbang dengan negara-negara pesaing,” ujar Airlangga dalam konferensi pers Perkembangan Terkini Negosiasi dan Diplomasi Perdagangan Indonesia–Amerika Serikat, Jumat (19/4/2025), yang dipantau secara daring dari Jakarta.

Ia menjelaskan, produk unggulan Indonesia seperti garmen, alas kaki, tekstil, furnitur, dan udang masih dikenakan tarif lebih tinggi dibanding negara-negara ASEAN maupun Asia lainnya seperti India, China, Korea Selatan, dan Jepang.

Dengan kebijakan tambahan tarif sementara sebesar 10 persen selama 90 hari, bea masuk untuk produk garmen asal Indonesia bahkan bisa menyentuh 47 persen, karena sebelumnya telah dikenakan tarif dasar 10–37 persen.

“Kalau ditambah 10 persen, maka produk kita jadi semakin mahal dan kurang bersaing,” kata Airlangga.

Kebijakan tarif resiprokal ini merupakan bagian dari langkah dagang yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada 2 April 2025. Dalam kebijakan tersebut, Indonesia dikenai tarif 32 persen, sementara beberapa negara tetangga seperti Filipina (17 persen), Singapura (10 persen), dan Malaysia (24 persen) mendapat tarif yang lebih rendah.

Namun, pada 9 April 2025, AS memberikan masa jeda 90 hari bagi sebagian besar negara – kecuali China – untuk evaluasi ulang. Indonesia termasuk dalam daftar negara yang menerima penangguhan sementara tersebut.

Airlangga menyebut jeda ini sebagai peluang emas untuk melakukan diplomasi dan negosiasi ulang agar struktur tarif bisa disesuaikan secara adil.

“Kami minta agar tarif tidak lebih tinggi dari negara lain. Ini soal keadilan dan perlakuan yang setara dalam perdagangan global,” tegasnya. (ant)

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Kategori:Ekonomi
wwwwww