Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
8 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
14 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
3
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
13 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
4
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
6 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
5
KPK Panggil Direktur PT Bela Parahiyangan Terkait Korupsi Lahan Kementerian ATR/BPN
Hukum
7 jam yang lalu
KPK Panggil Direktur PT Bela Parahiyangan Terkait Korupsi Lahan Kementerian ATR/BPN
6
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Umum
8 jam yang lalu
Massa Turunkan Foto Gibran di DPRD DIY, Guntur Romli Sebut Bukti Kemarahan Rakyat
Home  /  Berita  /  Voli

ASEAN Hidupkan Gagasan Dana Moneter Regional, Fokus pada Reformasi Keuangan

ASEAN Hidupkan Gagasan Dana Moneter Regional, Fokus pada Reformasi Keuangan
Arsip - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. (antara/anadolu/py)
Senin, 19 Mei 2025 11:15 WIB

ISTANBUL – Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) tengah mengaktifkan kembali wacana pembentukan dana moneter regional sebagai bagian dari langkah strategis memperkuat ketahanan ekonomi kawasan. Hal itu disampaikan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang saat ini menjabat sebagai Ketua ASEAN.

Dalam wawancara dengan TV BRICS yang dikutip The Star Daily, Jumat (17/5/2025), Anwar menegaskan bahwa ASEAN bergerak menuju reformasi menyeluruh di bidang keuangan dan moneter, seiring meningkatnya urgensi terhadap stabilitas regional.

“Salah satu contohnya adalah Chiang Mai Initiative, di mana bank-bank sentral kawasan bekerja sama dan mendorong penggunaan mata uang lokal,” jelas Anwar.

Ia menyebut inisiatif yang melibatkan Thailand, Indonesia, dan China telah menargetkan penggunaan mata uang lokal dalam 20 persen transaksi perdagangan kawasan, dengan nilai yang mencapai miliaran dolar.

“Meski dolar masih dominan secara global, kita bisa mulai menciptakan ruang perlindungan untuk memitigasi risiko dan menjaga kepentingan nasional,” katanya.

Langkah ini dipandang sebagai bagian awal dari arsitektur keuangan baru yang berbasis pada kerja sama kawasan, guna mengurangi ketergantungan terhadap mata uang global dan memperkuat kedaulatan ekonomi ASEAN.

Anwar juga mengungkapkan bahwa pertemuan tingkat tinggi ASEAN yang akan digelar di Malaysia pada akhir bulan ini akan memprioritaskan agenda ekonomi dan transformasi keuangan.

ASEAN terdiri dari 10 negara anggota: Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Singapura, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Malaysia memegang keketuaan ASEAN untuk tahun 2025. (ant)

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Kategori:Voli, Metropolitan, Ekonomi
wwwwww