Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
14 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
12 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
3
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
21 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
4
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
9 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
5
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
20 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
6
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
8 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Insiden Kilang Minyak Berulang, Beban Subsidi Energi Rakyat Kian Berat

Jum'at, 03 Oktober 2025 12:23 WIB

JAKARTA – Kebakaran di Kilang Dumai memicu kekhawatiran baru soal ketahanan energi nasional. Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PKS, Mulyanto, menyebut insiden tersebut semakin memperlebar ruang keuntungan bagi mafia impor migas, sementara rakyat kecil yang harus menanggung dampaknya.

“Setiap kali kilang terbakar, impor BBM pasti meningkat. Yang gembira hanya para mafia impor migas, sementara APBN makin terbebani subsidi energi. Rakyat yang akhirnya ikut menanggung,” ujar Mulyanto dalam keterangan tertulis, Kamis malam (2/10/2025).

Mulyanto menilai kapasitas produksi nasional yang tidak sebanding dengan kebutuhan membuat Indonesia rawan guncangan. Dengan lifting hanya sekitar 600 ribu barel per hari (BPH) dan kebutuhan mencapai 1,6 juta BPH, Indonesia praktis bergantung pada impor.

Menurutnya, pola kebakaran kilang yang berulang memperburuk situasi. “Hampir tiap empat bulan sekali ada kasus kebakaran. Padahal sudah ada unit manajemen risiko. Ini tanda serius ada yang salah dalam pengelolaan,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya audit teknis menyeluruh terhadap kilang tua seperti Dumai, Balongan, dan Cilacap, serta percepatan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP). “Kalau pemerintah terus menunda, kita akan jalan di tempat. Mafia impor makin kaya, rakyat makin sengsara,” tambahnya.

Mulyanto juga menyinggung kasus kilang Balikpapan yang terbakar tahun lalu padahal baru selesai ditingkatkan kapasitasnya. “Kita tidak bisa lagi main-main dengan keselamatan kilang. Ini bukan sekadar aset industri, tapi penopang energi nasional,” pungkasnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:gelora.co
Kategori:Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww