Insiden Kilang Minyak Berulang, Beban Subsidi Energi Rakyat Kian Berat
JAKARTA – Kebakaran di Kilang Dumai memicu kekhawatiran baru soal ketahanan energi nasional. Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PKS, Mulyanto, menyebut insiden tersebut semakin memperlebar ruang keuntungan bagi mafia impor migas, sementara rakyat kecil yang harus menanggung dampaknya.
“Setiap kali kilang terbakar, impor BBM pasti meningkat. Yang gembira hanya para mafia impor migas, sementara APBN makin terbebani subsidi energi. Rakyat yang akhirnya ikut menanggung,” ujar Mulyanto dalam keterangan tertulis, Kamis malam (2/10/2025).
Mulyanto menilai kapasitas produksi nasional yang tidak sebanding dengan kebutuhan membuat Indonesia rawan guncangan. Dengan lifting hanya sekitar 600 ribu barel per hari (BPH) dan kebutuhan mencapai 1,6 juta BPH, Indonesia praktis bergantung pada impor.
Menurutnya, pola kebakaran kilang yang berulang memperburuk situasi. “Hampir tiap empat bulan sekali ada kasus kebakaran. Padahal sudah ada unit manajemen risiko. Ini tanda serius ada yang salah dalam pengelolaan,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya audit teknis menyeluruh terhadap kilang tua seperti Dumai, Balongan, dan Cilacap, serta percepatan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP). “Kalau pemerintah terus menunda, kita akan jalan di tempat. Mafia impor makin kaya, rakyat makin sengsara,” tambahnya.
Mulyanto juga menyinggung kasus kilang Balikpapan yang terbakar tahun lalu padahal baru selesai ditingkatkan kapasitasnya. “Kita tidak bisa lagi main-main dengan keselamatan kilang. Ini bukan sekadar aset industri, tapi penopang energi nasional,” pungkasnya. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | gelora.co |
| Kategori | : | Metropolitan, DKI Jakarta |












